
Cipayung | jurnaldepok.id
Pada tahun 2029 seluruh sampah di setiap Kota di Indonesia termasuk di Kota Depok ditargetkan dapat dikelola dengan baik. Karena itu, Pemerintah Kota (Pemkot) Depok segera dapat menerjemahkan arahan pemerintah pusat ke dalam program nyata di lapangan.
Hal itu dikatakan Wakil Menteri Lingkungan Hidup (LH), Malik Hendropriyono atau yang biasa disapa Diaz Hendropriyono saat mengecek Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipayung.
Dia menambahkan, pemerintah daerah dituntut memperkuat pengurangan dan pemilahan sampah sejak dari sumbernya. Diaz menegaskan, pemerintah telah memiliki target besar dalam pengelolaan sampah.

“Pada 2029, seluruh sampah ditargetkan dapat dikelola dengan baik. Karena itu, kami meminta Pemerintah Kota Depok segera menerjemahkan arahan pemerintah pusat ke dalam program nyata di lapangan,” katanya, Selasa (11/8/2026).
Menurutnya, persoalan sampah harus ditangani secara menyeluruh, mulai dari tingkat rumah tangga hingga tempat pemrosesan akhir. Salah satu langkah yang ditekankan adalah memperkuat sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat mengenai pemilahan serta pengolahan sampah.
Namun, sosialisasi tersebut dinilai tidak cukup hanya dalam bentuk kampanye umum. Pemerintah daerah diminta membuat pola edukasi yang menyesuaikan karakteristik setiap wilayah.
“Setiap kelurahan bisa memiliki solusi sendiri dalam memilah sampah. Karena itu, sosialisasi harus memiliki ciri khas lokal,” ujarnya.
Diaz menambahkan, edukasi juga didorong memanfaatkan media digital, iklan layanan masyarakat, hingga panduan praktis yang menjelaskan apa yang harus dilakukan masyarakat setiap hari.
Mulai dari ibu rumah tangga, bapak-bapak, hingga anak-anak perlu memiliki pemahaman yang sama mengenai cara memilah dan mengolah sampah.
“Yang tak kalah penting, pemerintah diminta mengukur hasil dari setiap program sosialisasi tersebut. Bukan sekadar membuat kegiatan atau laporan, tetapi harus terlihat apakah volume sampah di suatu wilayah benar-benar berkurang dan apakah pemilahan sampah telah berjalan secara konsisten,” katanya.
Diaz bahkan memberikan pekerjaan rumah kepada jajaran Pemkot Depok agar dalam waktu sekitar satu bulan sudah terlihat sejumlah wilayah yang berhasil menjalankan pemilahan sampah dengan baik.
“Evaluasi itu nantinya dapat menjadi dasar untuk melihat kelurahan mana yang mampu menjadi contoh bagi wilayah lainnya,” tukasnya.
Dorongan memperkuat pemilahan sampah menjadi semakin penting karena Depok tengah menyiapkan sejumlah skema pengelolaan sampah dalam jumlah besar.
Dalam pemaparannya, disebutkan Depok akan menyumbang sekitar 700 ton sampah ke fasilitas pengolahan sampah, sekaligus memiliki rencana pembangunan fasilitas pengolahan dengan kapasitas sekitar 1.000 ton.
Namun, kapasitas teknologi pengolahan sampah tidak akan optimal apabila sampah yang masuk masih tercampur. Karena itu, pemilahan dari sumber menjadi salah satu kunci keberhasilan,“Dari tengah sampai hilir harus berjalan.
“Hasil dari apa yang dilakukan harus bisa dilihat, sehingga Depok bukan hanya menulis laporan, tetapi juga mengimplementasikannyamenjadi penekanan dalam kunjungan tersebut,” tuturnya.
Pemerintah pusat juga meminta aspek keselamatan menjadi perhatian serius, khususnya bagi para pemulung yang beraktivitas di sekitar TPA.
“Keselamatan para pekerja informal tersebut dinilai tidak boleh diabaikan,” ungkapnya.
Di lokasi sama, Wakil Wali Kota Depok, Chandra Rahmansyah memastikan Pemkot Depok siap menjalan kan arahan pemerintah pusat terkait pembenahan pengelolaan sampah.
Menurut Chandra, arahan yang disampaikan Kementerian Lingkungan Hidup akan menjadi bahan evaluasi sekaligus dasar penguatan program pengelolaan sampah di Kota Depok.
“Kami Pemkot Depok juga siap menjalani evaluasi secara berkala dengan sejumlah parameter yang akan menjadi ukuran keberha silan program,” katanya.
Kunjungan Wamen LH ke TPA Cipayung pada akhirnya bukan sekadar melihat kondisi tempat pembuangan sampah. Lebih jauh, kunjungan tersebut menjadi momentum untuk mengubah cara pandang pengelolaan sampah di Depok.
“Dari sekadar memindahkan sampah ke TPA menjadi upaya mengurangi sampah sejak dari sumbernya,
dengan target 2029,” ujarnya
TPA Cipayung yang telah menampung sekitar 2,9 juta ton sampah menjadi pengingat bahwa kapasitas tempat pembuangan akhir memiliki batas.
Sementara itu, sampah terus diproduksi setiap hari, karena itu keberhasilan Depok menuju target bebas sampah pada 2029 akan sangat bergantung pada konsistensi pemerintah, keterlibatan masyarakat, efektivitas pemilahan, teknologi pengolahan, serta keberanian memastikan seluruh program benar-benar berjalan di lapangan. n Aji Hendro








