
Limo | jurnaldepok.id
Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM), Kelurahan Meruyung, Kecamatan Limo, Supian Derry meminta kepada Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Depok selaku Dinas pengadaan proyek untuk mengevaluasi hasil pekerjaan pembangunan saluran air (Drainase) di sejajar ruas Jalan Raya Meruyung yang menurutnya sangat buruk dan tidak sesuai harapan.
Derry juga meminta kepada jajaran Dinas PUPR untuk melakukan teguran dan tindakan kepada pemborong yang telah lalai dalam melaksanakan pekerjaan yang merugikan para pengguna jalan dan para pelaku usaha disisi ruas jalan raya Meruyung.
“Saya sudah laporkan ke ibu Kadis bahwa kualitas hasil pekerjaan saluran air (Drainase) sangat jelek, baru hitungan hari sudah ambrol” ujar Derry kepada Jurnal Depok, kemarin.

Selain berkualitas buruk, dia juga mempermasalahkan soal durasi pelaksanaan pekerjaan proyek yang menurutnya sangat lambat sehingga memicu banyak protes dari masyarakat dan pengguna jalan.
“Kerjanya lambat, kualitasnya jelek dan jarak bak kontrolnya terlalu jauh nanti akan susah perawatannya, kami butuh kualitas bagus bukan proyek asal asalan, tolong di tindak pemborongnya dan bila perlu para oknum dinas yang bermain,” tegas Derry.
Pernyataan senada disampaikan oleh salah satu guru Madrasah Ibtidaiyah (MI) Hayatul Islamiyah Meruyung sekaligus Koordinator Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) Meruyung Mandiri, Ahmad Amarullah.
AA, sapaan akrab Ahmad Amarullah meminta kepada kontraktor pelaksana proyek drainase untuk segera menutup lubang galian saluran air (Drainase) khususnya yang berada didepan sekolah MI. Hayatul Islamiyah.
“Sudah tiga pekan lubang bekas galian itu menganga dan belum juga ditutup oleh pemborong proyek, ini sangat menggangu kenyamanan aktivitas sekitar sekolah, kami sudah menanyakan kepada para pekerja ternyata katanya tutup U – ditch nya belum ada sehingga pekerjaan terhambat, tolong dong kepada pihak berwenang untuk mendesak pemborong agar bisa segera melanjutkan pekerjaan dan menutup permukaan saluran agar tidak mengganggu aktivitas depan sekolah kami,” papar AA, kepada Jurnal Depok.
Lebih lanjut dikatakan AA, selain mengganggu aktivitas di seputar sekolah, lambanya kontraktor menutup bekas galian tanah depan sekolah juga bisa memicu bahaya bagi para siswa dan pengguna jalan.
“Lihat saja untuk masuk halaman sekolah harus melewati jembatan yang terbuat dari papan, saat hujan papan sangat licin dan bisa membahayakan siswa saat melintas di jembatan belum lagi lubang yang menganga bisa membahayakan pengendara, kondisi ini sudah tiga pekan dan pekerjaan belum ada tanda tanda akan segera dilanjutkan,” pungkasnya. n Asti Ediawan








