
Beji | jurnaldepok.id
Demo mahasiswa Universitas Indonesia (UI) di depan gedung Rektorat pada, Selasa (30/8) sore berlangsung ricuh. Akibat kejadian itu, dua petugas keamanan kampus tersebut mengalami luka dan terpaksa dilarikan menggunakan ambulans.
Peristiwa itu bermula ketika sejumlah mahasiswa yang menggelar demo di depan gedung rektorat berusaha masuk ke gedung Rektorat. Namun mereka dihadang petugas keamanan kampus sehingga terjadi aksi saling dorong antara mahasiswa UI dengan petugas keamanan dalam.
“Jumlah PLK hanya 20 orang. Kami disini 1.000 orang,” teriak salah seorang mahasiswa melalui pengeras suara.

Setelah berhasil merangsek halauan petugas, massa kemudian berkumpul di area lapangan gedung rektorat. Sejumlah mahasiswa kemudian memaksa untuk bertemu rektor. Saat itulah, adu fisik kembali terjadi. Aksi semakin tak terkendali ketika sejumlah mahasiswa melayangkan kayu dan ban yang mereka bawa hingga menyebabkan dua satpam kampus terluka.
“Dipukul sekali sama pakai bambu,” kata Endang, salah satpam yang terluka saat mengamankan aksi unjuk rasa.
Satpam lain yang juga terluka diketahui bernama Danang. Dia terluka di bagian kaki. Kemudian keduanya langsung mendapat pertolongan dan diamankan ke tempat lain.
Dalam aksinya, mahasiswa menyamapaikan sejumlah tuntutan. Di antaranya soal isu harta kekayaan Rektor UI, Prof Ari Kuncoro yang melonjak hanya dalam waktu tiga tahun.
Ketua BEM UI, Bayu Satria menilai, bertambahnya harta Ari Kuncoro tidak wajar.
“Iya (janggal), jadi kalau yang disampaikan oleh Rektor UI melalui Humas UI itu bahwa LHKPN yang dilaporkan adalah gabungan begitu. Nah yang kami soroti memang ini adalah kenaikan yang signifikan Rp 35 miliar, ini adalah angka yang tidak sedikit,” ujarnya.
Menurut dia, sedikit banyaknya tentu (harta kekayaan) itu dihasilkan dari luar UI. Ari Kuncoro diketahui sempat rangkapan jabatan sebagai komisaris di salah satu bank milik BUMN.
“Karena kemarin pernah menjabat sebagai komisaris, dan itu tentu menghasilkan pundi-pundi kekayaan dan pada akhirnya Rektor UI tak fokus menyelesaikan kepemimpinannya di UI,” paparnya.
Terkait hal itu, maka mahasiswa bakal aksi di lingkungan kampus. Mereka menuntut rektor menyelesaikan pekerjaan rumah yang belum diselesaikan.
“Yang pertama itu terkait dengan statuta UI yang malah memperbolehkan seorang rektor rangkap jabatan, dan masalah kecacatan formil serta substansi lainnya,” katanya.
Selain itu, pihaknya juga menyoroti masalah kekerasan seksual dalam kampus yang sampai hari ini UI belum membuat peraturan rektor tentang kekerasan seksual yang menjadi amanat dalam Permendikbud PPKS.
“Selanjutnya adalah masalah biaya pendidikan yang dinilai tidak ada keringanan dan malah melambung tinggi. Tuntutan terakhir adalah masalah pembunuhan mahasiswa UI di Danau UI, yang sampai tujuh tahun tidak selesai,” ungkapnya.
Kepala Biro Humas dan KIP UI, Amelita Lusia menyebut rektor dan ASN lainnya di lingkungan UI patuh melaporkan LHKPN ke KPK. Pelaporan itu merupakan salah satu perwujudan komitmen UI untuk mencegah korupsi dan melaksanakan prinsip-prinsip birokrasi bersih melayani.
“Sejauh ini, tidak ada temuan yang disampaikan oleh KPK sebagai lembaga yang memiliki kewenangan untuk menerima, mengkaji, dan menilai laporan yang diserahkan oleh penyelenggara negara dan ASN di lingkungan UI,” jelasnya.
Amelita menjelaskan, istri Ari Kuncoro, Lana Soelistianingsih adalah kepala eksekutif Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Sebelumnya, Lana berkarier di PT Samuel Sekuritas Indonesia sejak September 1996.
“Sejak 1 Oktober 2013, Lana diangkat menjadi Direktur, sekaligus sebagai Kepala Riset dan Ekonom di PT Samuel Aset Manajemen (SAM). Selain berkarier di SAM, Ibu Lana juga mengajar di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia sejak 1991,” pungkasnya. n Aji Hendro








