

Margonda | jurnaldepok.id
Pemerintah Kota (Pemkot) Depok dinilai bisa mengatasi masalah sampah, seperti mengolah sampah menjadi energi listrik.
Hal itu dikatakan Wali Kota Depok periode 2006-2011 dan 2011-2016, Nur Mahmudi Ismail (NMI) saat menghadiri peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-27 Kota Depok di Depok Open Space (DOS).
Nur Mahmudi pun menyampaikan pesan untuk Kota Depok yang berusia 27 tahun. Pesannya adalah Kota Depok harus dapat menyelesaikan masalah sampah dimana total sampah di Kota Depok per hari itu mencapai 1.200 ton. Dari itu, Kota Depok perlu membangun sendiri Pengolahan Sampah Energi Listrik (PSEL).
“Bila Depok hanya mau ikut konglomerasi ke Kota Bogor, Kabupaten Bogor dan Kota Depok untuk mendirikan PSEL, maka kemungkinan hanya sebagian yang bisa dikirim ke PSEL. Artinya masih menyisakan sejumlah sampah yang belum ditangani di Depok,” katanya.
Nur Mahmudi menyatakan, bila hal itu terjadi, maka Pemkot Depok dimata publik akan sibuk dan keluar biaya banyak untuk mengangkut sampah dari Depok ke Bogor. Kemudian juga Pemkot Depok harus mengeluarkan biaya kendaraan dan peralatan khusus lagi untuk mengolah sisa sampah.
Oleh karena itu, kata dia, lebih baik Pemkot Depok melakukan PSEL sendiri. Nur Mahmudi juga menekankan tentang komitment pelestarian lingkungan dengan penertiban pelanggaran GSJ, GSB, GSSungai, dan GS Situ.
Di antaranya di sepanjang Jalan Raya Bogor, Jalan Kartini sampai Citayam, serta Jalan Keadilan. Ia berharap Kota Depok semakin maju dan mensejahterakan warganya.
“Semoga Kota Depok terus tumbuh dan semakin maju. Warganya juga semakin sejahtera,” ujarnya.
Diberitakan sebelummya, Pemkot Depok dalam mengatasi krisis sampah bersama Pemprov Jawa Barat dan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), Depok resmi menyepakati kerja sama pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) yang berlokasi di Kota Bogor.
Program ini ditargetkan beroperasi pada 2028 dengan memanfaatkan pasokan lintas daerah untuk memenuhi kebutuhan bahan baku.
Kesepakatan ini dikukuhkan melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) di Jakarta, Selasa (7/4/2026), yang melibatkan Wali Kota Depok, Supian Suri, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, serta jajaran kepala daerah lainnya di bawah pengawasan Menteri LH, Hanif Faisol Nurofiq.
Supian menjelaskan bahwa peran Depok dalam proyek ini adalah sebagai pemasok utama bahan baku listrik.
Mengingat PLTSa membutuhkan minimal 1.500 ton sampah per hari untuk beroperasi secara optimal, Depok akan berkontribusi menyuplai sepertiga dari kebutuhan tersebut.
“Nanti kekurangannya dipenuhi dari Depok, kurang lebih sekitar 500 ton sampah per hari yang akan kita kirim ke Kota Bogor,” katanya.
Menurutnya, langkah ini akan secara signifikan menekan beban volume sampah yang selama ini menumpuk di Depok.
Dengan hadirnya PSEL, sampah tidak hanya ditangani sebagai limbah, tetapi diubah menjadi sumber energi listrik yang memiliki nilai tambah ekonomi dan lingkungan. n Aji Hendro








