Mutiara Ramadhan: Ekonomi dan Bulan Ramadhan

255
Endang Ahmad Yani

Oleh: Dr. Endang Ahmad Yani, SE. MM
Ketua Baznas Kota Depok

Hari berganti bulan, bulan berganti tahun, tak terasa Ramadhan tahun 2023 sudah berjalan tujuh hari. Berbagai macam respon masyarakatpun menghiasi datangnya bulan mulia yang dikenali sebagai bulan ibadah yang dipenuhi dengan kebaikan, hikmah dan barakah. Satu sisi masyarakat memberikan respon negatif, sisi lain memberikan respon yang positif. Penulis bermaksud menghubungkan kedua respon ini dengan tinjauan atas aplikasi berekonomi dalam menjalankan ibadah ramadhan.

Pada masyarakat yang merespon negatif atas datangnya bulan ramadhan yaitu mereka merasakan beratnya beban pengeluaran yang harus dipikul tatkala menjalankan ibadah shaum. Betapa tidak mulai dari sahur dan berbuka shaum harus disediakan lauk pauk yang bagus. Alasannya kalau tidak, maka semangat untuk beribadah shaum menjadi lemah karena itu merupakan motivasi atas perubahan kebiasaan pola makan.

Belum lagi menjelang lebaran, mereka harus mempersiapkan seperangkat pakaian yang harus dibeli dari toko serta anggaran untuk menghias rumah dengan cat warna warni. Terbayang sudah, berapa anggaran yang harus dikeluarkan oleh mereka dalam rangka mengisi bulan ramadhan apalagi di tengah carut marutnya perekonomian bangsa.

Berbeda halnya dengan masyarakat yang merespon postif dengan bulan ramadhan, diantaranya terjadi perubahan perilaku. Shaum semakin bermakna manakala setiap pola konsumsi muslim mampu memenuhi prinsip keseimbangan, halal (sah secara hukum agama) dan thayyib (barang yang baik dan bersih). Termasuk di dalamnya usaha-usaha yang halal pula dalam memperoleh pendapatan yang dibelanjakan. Dengan kondisi ini, mereka mempersiapkan sekaligus memasrahkn diri kepada Allah melalui bulan tarbiyah, untuk merubah menuju kondisi yang lebih baik pasca ramadhan.

Aplikasi Ekonomi-Ramadhan

Imam Al-Ghazali menyebut dalam kitabnya Ihya’ Ulumuddin, “Puasa adalah alat pemaksa supaya nafsu tunduk kepada petunjuk akal yang telah menjadikan al-Quran sebagai pedoman hidupnya. Ketundukan yang murni tanpa pengaruh lain-lain perkara yang berada di luar dirinya sehingga dalam keadaan bersendirian pun ia tetap berpuasa, kalau tidak demikian, itu bukan puasa.”

Itulah sebabnya beliau menguatkan lagi pendapatnya bahawa puasa itu rahasia yang tidak dapat dilihat oleh orang lain.

Shaum (puasa) yang disyari’atkan dan difardhukan oleh Allah kepada hamba-hamba-Nya mempunyai hikmah dan manfaat yang banyak sekali. Di antara hikmah puasa adalah bahwasanya puasa itu merupakan ibadah yang bisa digunakan seorang hamba untuk bertaqarrub kepada Allah dengan meninggalkan kesenangan-kesenangan dunianya seperti makan, minum dan menggauli istri dalam rangka untuk mendapatkan ridha Rabbnya dan keberuntungan di kampung kemuliaan (akhirat).

Jelas sekali, relevansi antara ramadhan dan ekonomi begitu erat, shaum bisa dijadikan sebagai momentum yang tepat dalam rangka mengubah perilaku konsumsi.

Menurut Monzer Khaf, barang-barang konsumen dalam konsepsi Islam adalah bahan-bahan konsumsi yang berguna dan baik manfaatnya, yang menimbulkan perbaikan secara material, moral maupun spiritual bagi konsumennya. Kondisi ini sekaligus sebagai sebuah jawaban atas persepsi negatif masyarakat tentang ibadah shaum.

Kondisi permasalahan ekonomi baik secara nasional maupun dunia bukan merupakan batu sandungan dalam menjalankan kekhusuan ibadah ramadhan, melainkan itu semua sebagai motivasi kita untuk semakin bergantung kepada Allah SWT atas pemenuhan rizki sehari-hari.

Kita tengok kebelakang bagaimana Rasulullah SAW ketika bulan ramadhan bisa menciptakan tingkat produktivitas yang tinggi, buktinya: penaklukkan kota Makkah (fathu Makkah) terjadi pada tanggal 10 Ramadhan, perang Badar berlangsung pada 17 Ramadhan dan Muadz bin Jabal diutus berdakwah ke Yaman juga pada bulan Ramadhan.

Penutup

Bulan Ramadhan dinyatakan pula sebagai bulan pembinaan (syahrut tarbiyah), masa menempa diri untuk melakukan berbagai perbaikan, masa evaluasi atas berbagai tindakan, masa mengkoreksi dan mengganti segenap kesalahan dengan kebaikan, masa merencakanan ancang-anacang amal masa depan, masa peneguhan komitmen terhadap kerja kebaikan.

Singkatnya, masa melakukan perubahan diri untuk mencapai kejayaan dan peningkatan produktivitas. Keberkahan Ramadhan akan kita rasakan apabila kita mampu menjadikannya momentum bagi perubahan perilaku ekonomi individual dan kebijakan perekonomian nasional ke arah perbaikan, menuju cita-citanya yang berkeadaban : masyarakat yang adil dan makmur. Negeri yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur. Wallahu a’lam bisshawab.|*

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here