
Limo | jurnaldepok.id
Pesatnya pembangunan tempat usaha dan perumahan di wilayah Kecamatan Limo ditengarai menjadi salah satu pemicu meningkatnya kepadatan ruas Jalan Raya Limo mulai dari pertigaan Parung Bingung hingga depan Kantor Samsat di perbatasan wilayah Kecamatan Limo dengan Kecamatan Cinere.
Peningkatan volume kendaraan yabg melintas di jalur tersebut tak pelak memicu terjadinya kemacetan disejumlah titik diantaranya depan jalan Masjid Al Mujahidin hingga depan Gedung SMAN 6, depan sekolah Yaspi dekat pintu gerbang tol Limo dan depan Universitas Pembangunan Nasional (UPN) “Veteran” Jakarta di Limo.
Menanggapi hal ini, Heri FK salah satu warga Kelurahan Meruyung meminta kepada Pemerintah Kota (Pemkot) Depok untuk mulai mempersiapkan rencana pelebaran ruas Jalan Raya Limo guna mengantisipasi potensi kemacetan yang lebih parah.
“Sekarang kemacetan memang belum begitu krodit tapi setahun atau dua tahun mendatang saya sangat yakin kemacetan di ruas Jalan Raya Limo akan meningkat tajam seiring bertambahnya jumlah kendaraan yang melintas, salah satu solusinya adalah pelebaran bidang jalan,” papar Heri FK.
Harapan senada disampaikan oleh Taufik Rahman salah satu pengguna jalan. Taufik mengaku kerap terjebak kemacetan di beberapa titik ruas jalan raya Limo terutama saat jam pergi dan pulang kerja.
“Kalau siang hari memang jalur ini aman dan enggak ada macetnya tapi kalau pagi atau sore hari macetnya cukup parah terkadang dari Cinere sampai Parung Bingung membutuhkan waktu lebih dari satu jam,” ungkap Topik sapaan Taufik Rahma.
Sementara Sobri salah satu warga Kelurahan Meruyung justru berharap Pemerintah Kota (Pemkot) Depok lebih mengutamakan pembenahan saluran air (Drainase) disisi ruas Jalan Raya Limo khususnya di Jalan Raya Meruyung, sebab kata dia saat turun hujan bidang jalan selalu tergenang banjir lantaran drainase disepanjang ruas Jalan Raya Limo lebih dari 70 persen tak berfungsi dan nyaris rata dengan bidang jalan akibat lubang saluran tertutup lumpur.
“Kalau pendapat saya sih mendingan saluran air dulu yang dibenahi,” tutup Sobri. n Asti Ediawan








