Tak Dibuang ke TPA Cipayung, DLHK Mulai Olah 10 Ton Sampah per Hari jadi RDF

4
Wali Kota Depok, H. Supian Suri saat meninjau Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R Jawa di Kecamatan Beji.

Beji | jurnaldepok.id
Beban sampah yang dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipayung akan berkurang pasca beroperasinya Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R Jawa di Kecamatan Beji. Di lokasi tersebut akan menggunakan metode Refuse Derived Fuel (RDF).

Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK)Kota Depok, Reni Siti Nuraeni mengatakan itu saat peresmian dan pengoperasin UPS 3R Jalan Jawa di Kecamatan Beji.

Dia mengatakan setelah dilakukan ujicoba maka pengoperasian UPS 3R Jawa kemudian dioperasikan untuk melakukan pengolahan sampah dengan metode RDF. Program tersebut merupakan salah satu bentuk nyata komitmen Pemerintah Kota Depok dalam memperkuat sistem pengelolaan sampah di kota Depok

Revitalisasi TPS 3R Jalan Jawa merupakan bagian dari implementasi dan kerjasama yang nyata antara Pemerintah Kota Depok dengan yayasan WWF Indonesia melalui program plastik yang telah berjalan sejak tahun 2021.

“Program ini bertujuan untuk mendorong pengurangan kebocoran sampah plastik di lingkungan melalui penguatan tata kelola peningkatan infrastruktur,” katanya, Minggu (13/6/1026).

Reni menambahkan, kapasitas mesin dapat mengolah sampah optimal delapan sampai 10 ton per hari dengan kondisi kerja yang di optimalkan. Kemudian sampah yang diolah merupakan sampah campur dan nanti pada saat proses akan dilakukan pemilahan antara sampah organik dengan sampah anorganik

Dengan pengoperasian UPS 3R dengan RDF maka sampah dari UPS Beji dengan jumlah delapan sampai 10 ton nantinya tidak akan dibuang ke TPA Cipayung. Pihaknya mengajak warga di Beji untuk melakukan pemilahan sampah dari rumah masing-masing.

“Kami tidak hanya menggunakan RFD saja dalam pengolahan sampah, namun ada metode lainnya seperti di UPS Merdeka, Sukmajaya,” ujarnya.

Dia berharap fasilitas serupa bisa diterapkan di wilayah lain Kota Depok, sehingga pengelolaan sampah tidak hanya terkonsentrasi di satu titik. Sampah yang diubah menjadi bahan bakar dapat digunakan untuk pembangkit listrik skala kecil atau industri, sehingga memberikan nilai ekonomi bagi kota.

“Kami berharap warga semakin sadar bahwa sampah bukan sekadar masalah kota, tapi potensi energi dan ekonomi yang bisa dimanfaatkan secara berkelanjutan,” tukasnya.

Di lokasi sama, Wali Kota Depok, Supian Suri mengatakan, hadirnya TPS 3R menjadi salah satu ikhtiar Pemerintah Kota (Pemkot) Depok dalam mengatasi persoalan sampah. Melalui fasilitas tersebut, sampah tidak hanya dikelola dengan baik, tetapi juga dapat memberikan manfaat serta memiliki nilai ekonomis.

“Kami ucapkan terima kasih kepada WWF yang telah berkolaborasi dengan Pemkot Depok, sehingga Kota Depok memiliki TPS 3R dalam mengoptimalkan pengelolaan sampah,” katanya.

Supian menjelaskan, TPS 3R tersebut mampu mengelola sampah hingga 8 sampai 10 ton per hari. Namun, pengelolaan tersebut akan lebih optimal apabila masyarakat melakukan pemilahan sampah sejak dari rumah.

Menurutnya, pengolahan sampah di TPS 3R juga dapat menghasilkan produk Refuse Derived Fuel (RDF) yang memiliki nilai guna.

“RDF ini nantinya akan diambil oleh offtaker atau perusahaan yang memang membutuhkan, sehingga dapat bernilai ekonomi,” ujarnya.

Ia menegaskan, keberadaan TPS 3R bukan menjadi akhir dari upaya pengelolaan sampah di Kota Depok. Dukungan dan sinergi seluruh elemen masyarakat tetap dibutuhkan, terutama dalam membiasakan pemilahan sampah dari sumbernya.

“Harapannya kita bisa terus semangat melakukan pengelolaan sampah, tentunya dimulai dari hal terkecil, yaitu melakukan pemilahan sampah dari hulu,” pungkasnya. n Aji Hendro

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here