Pas untuk Berbuka Puasa, Kue Ijo Produksi Rumahan Makin Diminati

116
Pengrajin Kue Ijo saat mengemas pesanan.

Laporan: Aji Hendro
Seorang warga di Jalan Urea, Kelurahan Beji Timur, Kecamatan Beji, memanfaatkan daun suji dan pandan untuk diolah menjadi Kue Ijo.

Founder Green Snack Sundus Balfas kepada wartawan mengatakan, usaha ini muncul secara tak sengaja saat dirinya baru pindah dari Jakarta ke Depok pada 2007.

Saat itu dia melihat banyak daun suji dan daun pandan terbuang percuma di dekat rumahnya.

“Di Jakarta itu susah cari daun suji sama pandan. Di sini kok dibuang-buang? Saya bilang, ah saya mau coba bikin, mau jual,” katanya.

Kemudian dia membuat Kue Ijo untuk dikonsumsi sendiri dan dibawa ke rekannya di lingkungan.

“Dan kue ijo yang dibuatnya mendapatkan respon yang baik dari warga,” ujarnya.

Kesempatan pertama datang saat ada acara halal bihalal di Masjid Al-Barokah. Dia membuat 100 potong Kue Ijo dan membagikannya. Ternyata responsnya di luar dugaan. Banyak tamu yang menelepon dan bertanya apakah kue tersebut dijual.

“Langsung saya bilang, saya jual,” ujarnya.

Awalnya, Kue Ijo dijual di gerai Green Snack, seharga Rp1.000 per potong. Kini, harganya Rp4.000 per buah atau Rp100.000 per kotak isi 25. Meski harga naik mengikuti biaya produksi, cita rasanya tetap dipertahankan. Sesuai namanya, Kue Ijo tampil dengan warna hijau cerah yang menggoda.

Namun warna tersebut bukan berasal dari pewarna buatan, melainkan murni dari daun suji dan daun pandan yang diperas dan disaring.

“Semua alami, tanpa bahan pengawet. Makanya kalau di luar tahan 24 jam. Kalau di kulkas bisa tiga sampai empat hari, bahkan ada yang simpan seminggu asal rapi,” jelasnya.

Bahan lainnya pun sederhana namun bernilai gizi: telur, gula pasir, susu kental manis, susu bubuk, vanila, garam, santan, terigu, dan maizena.

Proses pembuatannya dimulai dengan memblender telur, lalu mencampurkan sari suji dan pandan. Setelah itu seluruh bahan kering dan santan dimasukkan, disaring, lalu dicetak sebelum dikukus hingga matang.

Menurut Sundus, Kue Hijau kerap dibeli untuk oleh-oleh atau bahkan untuk menjenguk orang sakit.

“Yang enggak nafsu makan, makan ini,” tuturnya.
Tak hanya warga sekitar, pelanggannya datang dari berbagai kalangan dan instansi. Pesanan pernah datang dari kantor pemerintahan, katering, hingga kampus ternama seperti Universitas Indonesia (UI).

Bahkan kue ini pernah dibawa ke luar negeri seperti Singapura dan Malaysia karena dinilai praktis untuk perjalanan singkat dengan pesawat. Dan di bulan Ramadan ini Kue Ijonya dijadikan makanan pembuka puasa atau takjil.

Produksi Kue Ijo di gerai Green Snack tidak menentu setiap hari, tergantung pesanan dan kondisi daya beli masyarakat.

Namun saat Ramadan, permintaan melonjak tajam, bahkan ramai hingga tiga hari menjelang Lebaran. Dalam sehari, produksi bisa mencapai 1.000 hingga 2.000 potong jika ada banyak acara.
Meski usaha tengah mengalami penurunan, Sundus tetap mempertahankan lima ibu-ibu sekitar sebagai karyawan.

“Kasihan kalau dia berhenti. Kita sudah kayak saudara,” katanya.

Daun suji dan pandan pun kini tak lagi terbuang. Warga sekitar justru mengumpulkannya untuk disetor ke dapurnya. Selain menanam sendiri untuk cadangan, ia sengaja memberdayakan warga agar ikut merasakan manfaat ekonomi.

“Depok ini subur, pandan sama suji nggak masalah. Kalau di Jakarta susah,” ujarnya.

Kini, usaha Green Snack mulai diwariskan kepada anaknya agar terus berlanjut. Baginya, mempertahankan pelanggan lama yang sudah tersebar hingga ke Padang dan Makassar adalah amanah yang harus dijaga.

“Harapannya ke depan lebih maju, supaya bisa menambah lapangan kerja,” ucapnya.

Dari dapur rumahan di Depok, Kue Hijau bukan sekadar jajanan tradisional. Ini menjadi bukti bahwa kepedulian pada bahan alami, ketekunan, dan semangat berbagi bisa melahirkan kuliner khas yang menghidupi banyak orang. n

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here