Seni Budaya Depok Mulai Bangkit, Nuroji: Dulu Enggak Boleh Digelar di Balai Kota

202
Para penari dari sanggar Ayodya Pala saat tampil di pemecahan Rekor Muri.

Margonda | jurnaldepok.id
Ketua Dewan Kebudayaan Daerah (DKD) Depok, Nuroji mengapresiasi kepemimpinan Supian Suri-Chandra Rahmansyah. Contohnya, kegiatan pemecahan Rekor MURI dengan 1.117 penari di Depok kini sudah bisa digelar. Padahal, di era kepemimpinan sebelumnya kegiatan seperti ini sangat sulit digelar apalagi di area Balaikota Depok.

Bahkan, kata Nuroji, untuk melaksanakannya harus ngumpet-ngumpet. Dia mengaku senang karena saat ini seni dan budaya di Depok mulai bangkit.

“Acara seperti ini dulu enggak boleh, hari ini Alhamdulillah ada kesempatan kita tadi mengembangkan budaya,” kata Nuroji usai menghadiri kegiatan Depok Culture 1.117 penari Ayodya Pala Rekor Muri di Depok Open Space (DOS) Jalan Margonda, Kecamatan Pancoran Mas, Minggu (26/10/2025).

Dia menceritakan bagaimana sulitnya saat dia hendak membuat acara Depok Nigth Carnaval di halaman Balaikota. Dia tidak mendapat izin dari pemimpin Kota Depok saat itu sehingga harus dipindah ke Grand Depok City (GDC).

“Namun kegiatan tersebut dilarang akhirnya kami pindahkan ke kawasan Grand Depok City. Dulu impian-impian saya kan bisa di sini (DOS), wali kota bisa bersama-sama sama rakyatnya, bikin pesta kayak gini kan enak,” ceritanya.

Nuroji bersyukur, mimpi itu bisa terealisasi di era pemerintahan Supian-Chandra. Sebab menurutnya, di periode sebelumnya sangat sulit membuat event atau acara kebudayaan di area Pemkot Depok. Dia mengaku bangga dengan tarian yang ditampilan anak-anak Depok. Mereka membawa unsur dari sejumlah daerah.

“Dulu acara seperti ini enggak boleh, hari ini Alhamdulillah ada kesempatan kita tadi mengembangkan budaya. Dulu baca puisi aja teman-teman saya di kolong flyover, ngumpet-ngumpet dengan makanan cemilan kue pancong, enggak ada yang nonton, kasihan. Jadi saya benar-benar terharu hari ini event di Depok bisa berjalan dengan baik,” ucapnya.

Nuroji mengatakan, bahwa apa yang disuguhkan sanggar Ayodya Pala ada cerminan dari kemajemukan Kota Depok. Dikatakan, faktanya Kota Depok memang multi culture dan sebagai miniature Indonesia.

“Ini terobosan baru. Yang saya maksud identitas Depok tuh ya kayak gini, nggak hanya Betawi, saya orang Betawi. Nah perda itu mesti direvisi. Identitas Depok ya ini, bermacam-macam suku. Identitasnya budaya Depok ya ini, niniaturnya Indonesia,” tukasnya.

Di lokasi sama, Ketua Komisi B DPRD Depok, Hamzah memberikan apresiasi tinggi atas keberhasilan tersebut. Menurutnya, pencapaian ini tidak lepas dari dukungan penuh Wali Kota Depok, Supian Suri yang konsisten mendorong pengembangan seni dan budaya di Kota Depok.

“Saya sangat mengapresiasi penyelenggara Depok Culture, yang tentunya tidak lepas dari dukungan Pemerintah Kota Depok. Hari ini, sejarah baru terukir di Kota Depok melalui pemecahan rekor dunia MURI dengan 1.117 penari dari satu sanggar,” pungkasnya. n Aji Hendro

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here