Khutbah Jumat: Para Pendusta yang Bodoh

65
KH Syamsul Yakin

Oleh: KH Syamsul Yakin
Penulis Buku “Tafsir Surah Ar-Rahman”

Pada ayat sebelumnya diungkapkan bahwa kalangan jin termasuk makhluk yang kurang akal atau bodoh karena mereka mengatakan bahwa Allah memiliki anak dan istri. Perkataan ini termasuk dusta, berlebihan, dan keji. Sungguh hal itu di luar perkiraan para jin lain. Pada ayat berikutnya al-Qur’an memberi narasi, “Sesungguhnya kami mengira bahwa manusia dan jin itu tidak akan mengatakan perkataan yang dusta terhadap Allah” (QS. al-Jinn/72: 5).

Berdasar metode pemenggalan ayat dalam menafsirkan al-Qur’an, Pengarang Tafsir Jalalain membagi ayat ini menjadi dua penggal. Pertama, “sesungguhnya kami mengira bahwa”. Pada penggal pertama ini pengarang Tafsir Jalalain tidak memberi tafsiran apapun. Mereka hanya mengatakan bahwa artikal (amil atau huruf) “an” pada ayat tersebut adalah bentuk takhfif (dibaca ringan) dari partikel “anna” yang maksudnya adalah “annahu”.

Namun Syaikh Nawawi mengungkapkan bahwa sebelumnya kalangan jin tidak mengira bahwa tidak ada satu jin dari mereka yang akan mendustakan Allah buat selama-lamanya. Karena hal ini ada diantara jin yang ikut-ikutan mendustakan Allah tanpa reserve atau taklid buta. Bagi Syaikh Nawawi pernyataan mereka yang terekam dalam ayat ini adalah merupakan permintaan maaf karena mereka sebelumnya mengikuti iblis sebagai makhluk yang kurang akalnya alias bodoh.

Penggal kedua, “manusia dan jin itu tidak akan mengatakan perkataan yang dusta terhadap Allah”. Penggal ayat didapat beberapa informasi. Pertama, tidak hanya jin yang berdusta tentang Allah memiliki anak dan istri, tapi juga manusia. Menariknya, dalam soal berdusta al-Qur’an menyebut manusia terlebih dahulu baru kemudian jin. Artinya, kebohongan manusia juga berpengaruh bagi kalangan jin, di samping kalangan jin itu sendiri terhadap sesama mereka.

Kedua, tampaknya jin merasa tertipu oleh para penguasa dan pemimpin dari kalangan jin dan manusia. Awal kalangan jin berbaik sangka dan mengikuti mereka. Namun setelah mendengar langsung al-Qur’an yang dibaca Nabi saat shalat Subuh di Lembah Nakhla, mereka baru sadar bahwa mereka melakukan taklid buta tanpa menggunakan argumentasi dan dalil yang valid. Mereka jatuh ke jurang kebodohan yang menghinakan diri mereka sendiri. Setelah kejadian itu, kalangan jin akhirnya bertobat dan mengikuti risalah Nabi.

Peristiwa ketika kalangan jin mendengarkan bacaan Nabi terekam dengan apik di dalam al-Qur’an. “(Ingatlah) ketika Kami hadapkan kepadamu (Nabi Muhammad) sekelompok jin yang mendengarkan (bacaan) al-Qur’an. Ketika menghadirinya, mereka berkata, “Diamlah!” Ketika (bacaannya) selesai, mereka kembali kepada kaumnya sebagai pemberi peringatan” (QS. al-Ahqaf/46: 29). Menurut Ibnu Katsir inilah awal mula ketertarikan kalangan jin terhadap mereka dimana mereka meminta agar tenang mendengarkan al-Qur’an.

Ketiga, yang menarik bahwa kalangan jin membuktikan sendiri kedustaan mereka dengan mendengarkan al-Qur’an. Dalam konteks ini dapat disimpulkan “hudan” atau hidayah juga ditujukan buat kalangan jin. Artinya, al-Qur’an membatalkan dua hal sekaligus, yakni batalnya ucapan jin dan manusia yang berdusta dan batalnya kebenaran yang disangka kalangan jin sebelum melewati Lembah Nakhlah.

Keempat, ternyata seperti halnya manusia, kalangan jin juga terbebani untuk melaksanakan syariat. Jin yang beriman, dalam konteks ini, menyeru jin yang musyrik untuk beriman kepada Allah. Disebutkan di dalam al-Qur’an, “Mereka berkata, “Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengar sebuah kitab yang diturunkan setelah Musa, yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya, yang memberi petunjuk kepada kebenaran dan jalan yang lurus. Hai kaum kami, hadirilah seruan Allah dan berimanlah kepadanya. Dia niscaya mengampuni dosa-dosamu dan melindungimu dari azab yang pedih” (QS. al-Ahqaf/46: 30-31).

Di dalam kehidupan nyata manusia kerap kali berhubungan dengan manusia lain yang selalu berbohong. Materi kebohongan itu berisi kebodohan yang tidak masuk akal dan jauh dari moral dan norma yang disepakati manusia beradab. Selain itu, kebohongan demi kebohongan yang terus dinarasikan hampir-hampir dianggap sebagai kebenaran. Sementara yang melakukannya tidak tampak ada rasa malu. Semua dilakukan secara telanjang dan terang-terangan di muka publik.

Saatnya mendengarkan waskita Nabi kita, “Dan jauhilah kedustaan, karena kedustaan itu membawa kepada kemaksiatan, dan kemaksiatan membawa ke neraka. Jika seseorang senantiasa berdusta dan selalu berdusta, hingga akhirnya ditulis di sisi Allâh sebagai seorang pendusta” (HR. Muslim). Begitu juga, “Ada empat tanda seseorang disebut munafik. Jika salah satu perangai itu ada, dia berarti punya watak munafik sampai dia meninggalkannya. Empat hal itu adalah jika berkata, berdusta; jika berjanji, tidak menepati; jika berdebat, dia berpaling dari kebenaran; dan jika membuat perjanjian, dia melanggar perjanjian (mengkhianati)” (HR. Bukhari dan Muslim).*

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here