Nyuci Perabotan Jelang Lebaran, Momen Bebersih Lahir dan Batin

2
Wadon KOOD saat melakukan nyuci perabotan di Lebaran Depok 2026.

Kota Kembang | jurnaldepok.id
Kegiatan even Lebaran Depok 2026 memasuki hari kedua dengan melaksanakan tradisi Nyuci Perabotan.

Nyuci Perabotan yang dilakukan oleh Wadon Kumpulan Orang-Orang Depok di gelar di pinggir Kali Cikumpa Kawasan Alun-Alun Timur Kecamatan Cilodong. Nyuci Perabotan menjadi bagian dari upaya melestarikan budaya leluhur sekaligus pengingat pentingnya kebersihan lahir dan batin dalam menyambut bulan suci Ramadan.

Panitia Lebaran Depok 2026, Edi Masturo mengatakan, tradisi mencuci perabotan merupakan tahapan kedua setelah kegiatan “ngubek empang” yang telah digelar sebelumnya.

“Nyuci perabotan ini rangkaian kedua dari kemarin kita ngubek empang. Ini tahapan untuk persiapan menyambut bulan suci Ramadan, seperti yang dilakukan orang tua kita dulu,” katanya, Rabu (6/5/2026).

Tradisi tersebut merupakan warisan turun-temurun dari para leluhur yang mengandung filosofi mendalam tentang pentingnya kebersihan.

“Dulu, ketika masuk Ramadan, rumah-rumah dibersihkan, bahkan dicat pakai kapur. Perabotan dicuci semua. Itu filosofi untuk membersihkan diri dalam menyambut bulan suci,” ujarnya.

Ia mengaitkan nilai tradisi ini dengan kehidupan modern, khususnya dalam tata kelola pemerintahan. Semangat membersihkan tidak hanya berlaku secara fisik, tetapi juga moral.

Edi menyebut, melalui tradisi nyuci perabotan, masyarakat dapat memaknai pentingnya introspeksi diri menjelang Ramadan. Ke depan, pihaknya bahkan berencana mendorong kegiatan Lebaran Depok menjadi agenda rutin tahunan melalui regulasi resmi.

“Kita akan menggodok perda bersama Bapemperda agar ini menjadi kegiatan rutin. Siapapun wali kotanya nanti, tradisi ini harus tetap berjalan,” tukasnya.

Menurutnya, acara Lebaran Depok sebagai sarana pelestarian budaya lokal di tengah masyarakat yang semakin majemuk.

“Ini sangat penting, karena dengan banyaknya pendatang, tradisi asli Depok mulai terkikis. Generasi sekarang banyak yang tidak tahu budaya orang tua dulu,” tambahnya.

Karena itu, ucap Edi, tradisi ini diangkat kembali agar masyarakat, baik asli maupun pendatang, dapat mengenal identitas budaya Depok.

Ia pun mengajak seluruh masyarakat Kota Depok untuk ikut serta meramaikan rangkaian Lebaran Depok yang berlangsung hingga akhir pekan.

Di lokasi sama, Ketua Kumpulan Orang-orang Depok (Kood), Ahmad Dahlan menambahkan, Nyuci Perabot merupakan tradisi yang selalu ada saat Lebaran Depok. Menurutnya ada makna filosofi tersendiri dari tradisi tersebut.

Nyuci Perabot sudah menjadi tradisi sejak zaman dahulu saat menyambut Idul Fitri. Dimana kaum ibu mengeluarkan semua perabotan rumah untuk dicuci sebelum hari raya.

“Rangkaian Lebaran Depok atau orang Depok budayanya zaman dulu, ketika menghadapi Hari Raya Idulfitri ini banyak budaya adat istiadat atau kebiasaan yang dipersiapkan, ini salah satunya hari ini nyuci perabotan,” jelasnya.

Baba Dahlan, sapaan akrabnya menceritakan, Nyuci Perabot bukan hanya sekadar memiliki makna membersihkan perkakas rumah tangga saja. Secara filosofi, Nyuci Perabot diibaratkan sebagai pembersihan diri. Selama Ramadan sebulan penuh, jiwa dan raga kita sedang dibersihkan dari segala kotoran.

Untuk itu, saat menyambut Hari Raya Idulfitri, perabotan rumah juga harus bersih.

“Jadi menjelang Hari Raya Idulfitri ini di samping jiwa kita juga yang puasa, berpuasa satu bulan penuh dan kembali kepada fitrahnya. Peralatan rumah tangga juga harus bersih, rumah harus bersih, semuanya di Hari Raya Idul Fitri itu juga bersih,” ujarnya.

Guna melestarikan tradisi tersebut, nyuci perabotan dilakukan oleh sekelompok ibu-ibu mengenakan kebaya dan ikat kepala seperti orang zaman dahulu. Mereka mencuci beberapa dandang dan salang (keranjang) dari rotan menggunakan sabun dan serabut kelapa.

“Kami berharap tradisi ini dirawat dan dilestarikan terus jangan sampai hilang,” pungkasnya. n Aji Hendro

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here