Hadiri Maulid Perjuangan, Wali Kota Ungkap Depok Resmi Keluar dari Cap Intoleran

17
Wali Kota Depok, H. Supian Suri saat menghadiri Maulid Perjuangan yang diselenggarakan PDI Perjuangan.

Margonda | jurnaldepok.id
Kota Depok resmi keluar dari daftar 10 besar kota paling intoleran di Indonesia. Wali Kota Depok, H. Supian Suri mengatakan itu di hadapan ribuan warga pada pelaksanaan Maulid Perjuangan di Kawasan Alun-Alun Timur, Kecamatan Cilodong.

Dia menyampaikan rasa syukur atas kenaikan drastis peringkat toleransi di kotanya. Capaian positif tersebut menjadi tonggak sejarah baru bagi seluruh warga Depok setelah bertahun-tahun harus memikul label kurang menyenangkan terkait toleransi beragama dan berbudaya.

Dia menambahkan, sinergi antara pemerintah daerah, tokoh masyarakat, serta seluruh elemen warga terbukti berhasil mengubah citra Depok menjadi jauh lebih inklusif dan terbuka.

Keberhasilan menaikkan posisi hingga 18 peringkat ini tidak diraih secara instan, melainkan lewat berbagai program kebangsaan dan ruang dialog antarumat beragama yang konsisten digelar.

Pemerintah Kota (Pemkot) Depok terus mendorong berbagai kebiasaan ruang perjumpaan inklusif guna mempererat tali silaturahmi serta mengikis stigma negatif di tengah masyarakat

“Alhamdulillah tahun-tahun sebelumnya Depok terkenal dengan kota intoleran yang masuk di dalam 10 besar kota paling intoleran, alhamdulillah tahun kemarin kita sudah naik tingkat 18 peringkat sehingga kita tidak lagi menjadi kota intoleran,” katanya, Senin (21/9/2026).

Ia menambahkan, hakikat utama dari sebuah kota adalah menjadi tempat tinggal yang aman, nyaman, dan ramah bagi siapa saja tanpa terkecual

“Karena sejatinya hadirnya sebuah kota, hadirnya satu tempat adalah rumah buat bersama, rumah kita semua, kita tidak bercerita dari mana agama kita atau apa agama kita, dari mana suku kita, dan dari mana latar belakang kita,” tegasnya.

Semangat kesetaraan ini diharapkan dapat menjadi fondasi utama dalam merancang setiap kebijakan publik di Depok ke depannya.

Supain mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk terus merawat toleransi ini dengan cara mencintai kota sebagaimana mencintai rumah tempat tinggal sendiri.

Dia juga menyoroti keberagaman sebagai bagian penting dalam kehidupan masyarakat Depok. Semangat kebangsaan, kata dia, harus berjalan bersama penghormatan terhadap perbedaan agama, suku, dan budaya. Ruang kebersamaan pun perlu terbuka bagi masyarakat dari berbagai latar belakang. n Aji Hendro

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here