Pengelolaan Koperasi Merah Putih Dinilai Belum Maksimal

25
Suasana KMP di wilayah Kelurahan Cinere.

Cinere | jurnaldepok.id
Meski keberadaan Koperasi Merah Putih (KMP) di setiap Kelurahan sudah berjalan sejak beberapa bulan silam, namun sampai saat ini pengelolaan bisnis perniagaan berbasis kerakyatan tersebut belum maksimal lantaran banyak menemui kendala dalam pelaksanaan kegiatan usaha.

Iskandar salah satu pengurus Koperasi Merah Putih Kelurahan Cinere secara terang terangan mengatakan bahwa pengelolaan koperasi merah putih di Kelurahan Cinere belum maksimal bahkan dalam sebulan omzetnya hanya berkisar ratusan ribu rupiah saja.

“Terus terang kegiatan usaha di Koperasi Kelurahan Cinere masih sangat jauh dari harapan, dalam sebulan saja omzet nya hanya sekitar dua ratus ribuan, hal ini disebabkan banyak faktor terutama penempatan sekretariat koperasi yang kurang strategis dan minimnya sosialisasi kegiatan usaha koperasi kepada masyarakat,” tetang Iskandar.

Lebih memprihatinkan lagi, lanjut dia jumlah anggota koperasi bukan bertambah malah cenderung berkurang karena banyak warga yang sudah masuk anggota namun tidak aktif malah ada yang meminta untuk keluar dari keanggotaan koperasi.

Terpisah, salah satu pengurus Koperasi Merah Putih (KMP) Kelurahan Meruyung, Kecamatan Limo, Wiwin Erni Hidawati juga mengakui pengelolaan koperasi merah putih selama ini belum maksimal lantaran terbentur sejumlah kendala.

“Sejauh ini kegiatan usaha berjalan cuma belum maksimal, dan omzet nya belum banyak karena ada beberapa kendala seperti belum adanya grosir khusus tempat pengambilan barang, minimnya permodalan, sosialisasi yang belum maksimal serta sejumlah kendala lainnya,” ungkap Wiwin.

Sementara salah satu pemerhati sosial ekonomi masyarakat, Anwar Sanusi mengatakan pengembangan usaha koperasi diwilayah perkotaan agak sulit dilakukan mengingat saat ini warga masyarakat cenderung lebih menginginkan belanja dengan mudah dan cepat seperti belanja via online.

“Mungkin kalau di daerah pedesaan sistem perniagaan koperasi masih bisa maju karena disana para petani masih butuh pupuk dan berbagai kebutuhan lain yang bisa disediakan oleh koperasi tapi kalau di perkotaan agak sulit karena sekarang orang belanja pengennya mudah dan cepat cukup pesan melalui online, barang dianter kerumah dan bayar secara non tunai, bahkan dampaknya banyak toko ritel yang gulung tikar lantaran pembeli sepi,” pungkasnya. n Asti Ediawan

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here