
Laporan: Aji Hendro
Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah di kota/kabupaten se-Indonesia sudah kelebihan beban atau overload.
Menteri Lingkungan Hidup (KLH), Jumhur Hidayat mengatakan itu saat memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 di Bumi Perkemahan dan Graha Wisata Pramuka, Cibubur.
Jumhur menyampaikan, dunia saat ini mengalami krisis 3 planet yakni perubahan iklim, degradasi keanekaragaman hayati, dan pencemaran. Ketiga krisis ini saling berkaitan dan mengancam stabilitas ekologi, ekonomi, dan sosial.

Dengan demikian, isu lingkungan hidup menjadi sangat penting bagi kelangsungan generasi mendatang, sebab, sebagai negara kepulauan terbesar, Indonesia sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim.
Lebih dari 60 persen penduduk yang tinggal di wilayah pesisir. Dan berisiko kenaikan muka air laut, cuaca ekstrem, dan gangguan ketahanan pangan.
“Lebih dari 90 persen bencana di Indonesia bersifat hidrometeorologi seperti longsor, banjir dan kekeringan,” kata Jumhur dalam sambutan peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026, Senin (7/6/2026).
Jumhur mengatakan, di tengah tantangan ini, masalah sampah menjadi bagian yang mempengaruhi perubahan iklim.
Hal ini karena Indonesia menghasilkan 51 juta ton sampah setiap tahun, dan 74 persennya belum dikelola secara optimal.
Sebagain besar bercampur dan berakhir di TPA yang menggunakan metode open dumping.
Praktik ini hanya menimbulkan masalah kebersihan, tidak hanya masalah kebersihan tapi juga mencemaran lingkungan gas metan, dan ancaman terhadap kesehatan, kualitas hidup, dan keberlanjutan.
Jumhur menyinggung emisi gas metan dari sampah yang mencapai 30 kali dari karbon dioksida.
Oleh karena itu, harus ada upaya untuk menyesaikan masalah sampah dengan tuntas.
“TPA yang kelebihan beban hampir di seluruh kabupaten kota di Indonesia, bisa berasal dari kebiasaan kumpul, angkut, buang. Sampah tidak terpilah, pengolahan buruk gas metan tidak ditangkap dan tidak dimanfaatkan. Kondisi ini menyebabkan darurat sampah,” ujarnya.
TPA yang kelebihan beban ini, kata Jumhur, menjadi sumber emisi terbesar dari sektor persampahan di Tanah Air.
Oleh karena itu, pengolahan sampah tidak boleh lagi hanya bertumpu pada pendekatan hilir dan harus mengubah tata kelola sampah secara menyeluruh.
Jumhur pun mengajak seluruh masyarakat untuk melakukan gerakan pemilahan sampah dari rumah tangga. Sebab, sampah adalah salah satu wujud kerusakan lingkungan yang paling luas.
Jumhur menegaskan, penanaman pohon merupakan langkah konkret dalam menjaga keseimbangan lingkungan, sekaligus menghadapi tantangan perubahan iklim dan degradasi lahan.
“Menanam pohon berarti menanam masa depan. Upaya menjaga lingkungan tidak bisa dilakukan sendiri oleh pemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat agar manfaatnya dapat dirasakan oleh generasi sekarang maupun generasi mendatang,” ungkapnya.
Jumhur menekankan bahwa kesejahteraan masyarakat dan perlindungan lingkungan hidup harus berjalan secara seimbang.
Pemanfaatan lahan produktif perlu diarahkan tidak hanya untuk memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat, tetapi juga tetap menjaga keberlanjutan ekosistem dan kelestarian lingkungan hidup.
“Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 menjadi pengingat bahwa masa depan lingkungan tidak ditentukan oleh apa yang kita rencanakan, melainkan oleh apa yang kita lakukan mulai hari ini. Oleh karena itu, saatnya mengubah kepedulian menjadi tindakan, dan tindakan,” pungkasnya. n Aji Hendro








