
Limo | jurnaldepok.id
Bacang salah satu jenis makanan tradisional berbahan dasar beras yang berisikan daging cincang kini menjadi salah satu jenis makanan berat yang banyak dioptimalkan untuk memenuhi kebutuhan karbohidrat pada menu Makanan Bergizi Gratis (MBG).
Sejumlah pengelola SPPG tampaknya cenderung lebih memilih Bacang sebagai pemenuh karbohidrat pada paket MBG lantaran Bacang relatif lebih disukai oleh anak sekolah, anak balita maupun ibu hamil dan ibu menyusui. Mereka menjadi target penerima manfaat program MBG.
Bacang yang dibungkus menggunakan daun bambu dipilih sebagai pengganti nasi putih pada paket MBG mendapat respon positif dari masyarakat penerima manfaat program MBG.
Salah satu kader PKK di wilayah Kelurahan Grogol, Kecamatan Limo, Jumiati mengatakan, sebagian penerima manfaat MBG sangat senang dengan pemilihan menu yang bervariasi termasuk Bacang sebagai pengganti nasi putih.
“Ya, dipilihnya Bacang sebagai pengganti nasi putih tidak ada masalah, malah penerima MBG merasa senang karena menunya bervariasi enggak cuma itu-itu saja,” ungkap Jumi sapaan Jumiati.
Pernyataan senada disampaikan oleh Putri salah satu orang tua balita yang sering mendapat suplay paket MBG.
“Kayaknya anak saya lebih doyan Bacang dari pada nasi putih karena di dalam Bacang terkadang ada daging ayam yang di suwir suwir, atau kuning telur asin bahkan terkadang juga berisi jamur yang membuat anak enggak bosan mengkonsumsi MBG,” tandasnya.
Sebelumnya, pendistribusian Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Depok pada bulan Ramadan 1447 Hijriah tetap berjalan.
Koordinator Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kota Depok, Rakha Pratama kepada wartawan mengatakan, berdasarkan Surat Edaran Nomor 3 Tahun 2026, mekanisme pembagian Makan Bergizi Gratis (MBG) selama bulan Ramadan di wilayah mayoritas muslim akan dilaksanakan secara serempak mulai tanggal 23 Februari 2026.
Penyesuaian layanan tersebut mengacu pada Surat Edaran Nomor 3 Tahun 2026 tentang Pelayanan Program MBG pada Bulan Ramadan dan Idulfitri 1447 H/2026 M serta Libur Tahun Baru Imlek 2026 yang diterbitkan Badan Gizi Nasional (BGN).
Bagi peserta didik di sekolah umum, jadwal distribusi tetap mengikuti hari efektif sekolah, namun khusus untuk pesantren atau sekolah berasrama (boarding school), pengolahan makanan dilakukan pada siang hari agar dapat disajikan tepat pada waktu berbuka puasa.
Jika terdapat periode libur sekolah, SPPG dapat menerapkan mekanisme alternatif seperti pengantaran paket ke sekolah, pengambilan mandiri oleh orang tua di SPPG, atau pengiriman melalui titik serah terima (hub) yang disepakati seperti RT/RW atau Posyandu
“Terkait penyajiannya, MBG tidak lagi disajikan seperti hari biasa melainkan dalam bentuk paket makanan kemasan sehat yang diolah dan dikemas langsung oleh SPPG menggunakan tol bag,” katanya, Senin (23/2/2026).
Menu yang disajikan dipilih secara khusus agar tidak cepat basi dan tidak pedas, dengan rekomendasi lauk seperti telur asin, abon, atau dendeng kering guna menjaga keamanan pangan dan kecukupan gizi selama menjalankan ibadah puasa. Menu yang dianjurkan meliputi bahan pangan yang tidak cepat basi, tidak bercita rasa pedas, dan tidak berpotensi menimbulkan keracunan pangan.
“Secara spesifik, rekomendasi menu terdiri dari telur asin, abon, dendeng kering, buah-buahan, serta makanan khas lokal lainnya,” ujarnya.
Selain itu, penyediaan kurma juga disarankan sebagai menu tambahan (opsional) dengan tetap memperhatikan standar gizi sesuai kelompok usia penerima manfaat. Seluruh menu ini harus berupa makanan siap makan yang diproduksi atau diolah langsung oleh SPPG. n Asti Ediawan








