

Oleh: KH. Syamsul Yakin
Penulis Buku “Tafsir Surah Ar-Rahman”
Ketika kalangan jin mengerumuni Nabi terkuak di dalam firman Allah, “Sesungguhnya ketika hamba Allah (Nabi Muhammad) berdiri menyembah-Nya (melaksanakan shalat), mereka (jin-jin) itu berdesakan mengerumuninya” (QS. al-Jin/72: 19). Dalam ayat ini, Nabi disebut dengan Abdullah, bukan Muhammad atau Ahmad. Ini adalah cara Allah menyebut nama Nabi Muhammad di dalam al-Qur’an: menggugah dan membuat rasa ingin tahu.
Cara serupa, misalnya dapat ditemui di dalam ayat, “Mahasuci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (QS. al-Isra/17: 1). Diksi yang Allah gunakan kali ini adalah “hamba-Nya”. Allah tidak menyebut nama “Muhammad” secara langsung.
Di dalam ayat lain, kendati Allah menyebut nama Muhammad secara langsung, namun diikuti gelar beliau, yakni rasulullah atau utusan Allah. “Nabi Muhammad adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengannya bersikap keras terhadap orang-orang kafir (yang bersikap memusuhi), tetapi berkasih sayang sesama mereka” (QS. al-Fath/48: 29. Inilah bentuk penghargaan Allah terhadap Nabi. Selain itu, inilah sopan santun yang harus ditiru oleh umat Nabi Muhammad. Ayat serupa masih dapat ditelusuri di dalam al-Qur’an.
Ayat di atas terasa sangat kontras. Pertama, sejarah mencatat bahwa Nabi shalat di lembah Nakhlah pada tahun 10 kenabian. Peristiwa itu terjadi setelah Nabi ditolak mentah-mentah berdakwah di Thaif. Orang-orang Thaif mengusir dan menyakiti Nabi. Kedua, saat Nabi shalat di lembah tersebut, secara diam-diam kalangan jin justru tertarik dengan gerakan shalat Nabi dan para sahabat. Yang kalangan jin saksikan berbeda dengan gerakan yang dipraktikkan kaum musyrik pada saat menyembah berhala. Saking tertariknya, kalangan jin dengan cara Nabi beribadah, digambarkan oleh pengarang Tafsir Jalalain, mereka saling berkerumun dan bertindihan.
Ketiga, shalat di lembah Nakhlah tersebut adalah shalat yang dilakukan Nabi sebelum peristiwa Isra Mikraj. Artinya, shalat tersebut belum dilaksanakan lima waktu dalam sehari semalam. Saat itu Nabi baru shalat dua waktu saja, yakni shalat di awal pagi yakni Subuh dan shalat di awal malam, yakni Isya. Tentu kalangan jin akan kian terpesona lagi apabila mereka menyaksikan kewajiban shalat setelah Isra Mikraj, yakni Dzuhur. Ashar, dan Maghrib. Dalam konteks ini, secara psikologis, kalangan jin lebih lembut hatinya ketimbang orang-orang Thaif yang menolak dakwah Nabi.
Keterpesonaan kalangan jin itu kian bertambah manakala para sabahat yang shalat bersama Nabi mengikuti gerakan serupa seperti berdiri, rukuk, dan sujud. Dari sini juga dapat diketahui bahwa shalat berjamaah sudah dipraktikkan Nabi dan para sahabat sebelum peristiwa Isra Mikraj yang baru terjadi pada tahun kesebelas atau duabelas kenabian. Jadi keheranan kalangan jin terhadap shalat Nabi ada tiga, yakni bacaan al-Qur’an, gerakannya, dan para sahabat yang mengikuti shalat Nabi.
Keempat, ada yang menarik dalam peristiwa ini. Al-Maraghi mengungkapkan di dalam tafsirnya bahwa setelah di Thaif Nabi ditolak oleh kalangan musyrik yang kumpul secara bergerombol sambil mengancam Nabi, di lembah Nakhlah sekawanan jin malah tertarik dengan cara Nabi beribadah. Jadi kalau orang-orang Thaif mengecam dan mengancam Nabi, kalangan jin terpesona dan mengikuti dakwah beliau. Keterpesonaan mereka digambarkan pada bagian awal surah al-Jin.
Demikianlah, Allah mengabarkan keadaan jin tatkala Nabi mengerjakan shalat dan mengeraskan suara. Kalangan jin sangat antusias terhadap yang dilihat dan didengar sampai-sampai mereka berkerumun dan berdesak-desakan. Di sisi lain. Nabi sendiri tidak mengetahui wujud mereka. Ayat ini menggambarkan bahwa penolakan dalam satu tempat, akan diganti dengan penerimaan pada tempat yang lain. Pelajaran berharganya adalah bahwa tidak perlu berlama-lama bertahan di tempat yang tidak diterima, karena terhampar luas tempat yang antusias menerima.*








