
Oleh: KH. Syamsul Yakin
Penulis Buku “Tafsir Surah Ar-Rahman”
Begitu besar penolakan kaum musyrik terhadap dakwah Nabi. Bukan hanya dari kaum Quraisy, tapi juga dari orang-orang Thaif, khususnya suku Tsaqif. Mereka menganggap bahwa dakwah Nabi hanya menantang semua manusia, karena Nabi membawa agama baru yang mendelegitimasi ketuhanan mereka. Nabi tidak merespons hal itu sampai turun perintah Allah, “Katakanlah (Nabi Muhammad), “Sesungguhnya aku hanya menyembah Tuhanku dan aku tidak mempersekutukan-Nya dengan apa pun” (QS. al-Jin/72: 20).
Pengarang Tafsir Jalalain mengungkapkan bahwa ayat ini turun sebagai jawaban dari Allah yang harus disampaikan oleh Nabi terhadap orang-orang kafir yang mengatakan kepada Nabi agar beliau berhenti melarang kaum Qurasy dan orang-orang Thaif menyembah berhala. Inilah kebijaksanaan dakwah beliau, yakni bukan didasarkan hasyrat pribadi, tapi berdasarkan perintah Allah. Begitu pula ketika ditolak dan dilukai oleh orang-orang Thaif, Nabi menolak tawaran malaikat untuk meluluhlantakkan mereka.

Penggalan ayat, “Sesungguhnya aku hanya menyembah Tuhanku dan aku tidak mempersekutukan-Nya dengan apa pun”, menurut al-Maraghi, Nabi tidak sedang mengurusi urusan ketuhanan orang-orang musyrik. Sebab Nabi sendiri tidak berkuasa untuk memberi hidayah atau petunjuk kepada mereka. Termasuk, Nabi juga tidak bisa memberi kebaikan apapun kepada mereka. Nabi hanya menyampaikan dakwah yang diletakkan di punggung beliau oleh Allah. Sejarah membuktikan bahwa paman Nabi sendiri, yakni Abu Thalib, hingga wafatnya tidak masuk Islam.
Terkait ketidakmampuan Nabi memberi hidayah, termasuk kepada paman beliau sendiri, Allah menegaskan, “Sesungguhnya engkau (Nabi Muhammad) tidak (akan dapat) memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki (berdasarkan kesiapannya untuk menerima petunjuk). Dia paling tahu tentang orang-orang yang (mau) menerima petunjuk” (QS. al-Qashash/28: 56).
Jadi, menurut Ibnu Katsir, hidayah itu bukan urusan Nabi. Tugas Nabi hanyalah menyampaikan. Hidayah adalah hak prerogatif Allah. Allah menegaskan lagi, “Bukanlah kewajibanmu (Nabi Muhammad) menjadikan mereka mendapat petunjuk, tetapi Allahlah yang memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki (berdasarkan kesiapannya untuk menerima petunjuk)” (QS. al-Baqarah/2: 272). Kalau Nabi menyadari bahwa hidayah itu adalah urusan Allah, maka masuk akal kalau Nabi tidak memusuhi mereka yang menolak dakwah beliau.
Dalam konteks ini, seperti yang diuraikan oleh Syaikh Nawawi bahwa Nabi hanya menyembah Allah dan Nabi hanya mengajak manusia untuk mengikutinya tanpa paksaan dan tekanan. Hasil dakwah Nabi adalah hak Allah. Nabi hanya melaksanakan proses dakwah yang dibebankan Allah kepada beliau. Dakwah Nabi merangkul bukan memukul. Artinya, Nabi menggunakan akal budi dan pengetahuan dalam melaksanakan dakwah. Inilah makna dakwah Nabi penuh dengan kebijaksanaan kepada manusia.
Kebijaksanaan dakwah Nabi dalam sejarah terlihat dari upaya keras beliau mengembalikan manusia kepada keimanan kepada Allah. Sebab pada awalnya manusia itu beriman dan mengakui eksistensi Allah sebagai satu-satunya Tuhan yang berhak disembah. Namun dengan berjalan waktu manusia menyimpang. Manusia menyembah roh-roh yang dianggap memiliki kekuatan. Inilah animisme. Manusia juga menyembah benda-benda yang dianggap digdaya. Inilah dinamisme. Di tanah Arab Nabi juga berhadapan dengan paganisme, yakni kepercayaan yang keluar dari agama Abrahamik (Yahudi, Kristen, dan Islam).
Setelah mereka yang menganut animisme, dinamisme, dan paganisme kembali beriman kepada Allah, dengan kebijaksanaan dakwahnya, Nabi mengantarkan mereka kepada pribadi-pribadi yang bertakwa. Artinya, ada transformasi dari sekadar beriman menjadi bertakwa. Untuk menggapai predikat takwa, di antaranya Nabi mengajak mereka untuk beribadah, seperti shalat, puasa, zakat, dan haji. Takwa itu sendiri berarti menjalankan semua yang Allah perintahkan dan meninggalkan semua yang Allah larang.
Sampai hari ini manusia masih merasakan kebijaksanaan dakwah Nabi. Manusia merasakan kehidupan yang damai dalam keimanan dan ketakwaan. Manusia merasakan ketenangan hidup dengan beribadah kepada Allah. Untuk itu, kebijaksanaan dakwah Nabi harus dilestaikan dan dilanjutkan dari generasi ke generasi secara estafet sampai hari terakhir nanti. Keberhasilan kebijaksanaan dakwah Nabi dapat diintip di berbagai belahan dunia, termasuk di Thaif yang terus mereproduksi ulama.*








