Ajarkan Akhlak dan Kepribadian Mulia, Pondok Pesantren Pencetak Ulama Bangsa

415
KH. Ahmad Fakhruddin Murodih | Pimpinan Pondok Pesantren Ittihaadussyubbaan

Sawangan | jurnaldepok.id
Meskipun peringatan hari Santri tahun 2025 telah dicederai oleh peristiwa pelecehan Santri dan Kiai yang peristiwanya ditayangkan pada segmen acara Xpose Trans 7 pada, Senin (13/10/25) LALU, namun hal itu diharapkan tidak akan mengurangi nilai terhadap predikat Pondok Pesantren sebagai lembaga pencetak ulama di negeri ini.

Bahkan sebaliknya, peristiwa itu akan menjadi tonggak kebangkitan bagi para ulama dan santri dalam melaksanakan kiprahnya sebagai pembina ummat.

Demikian disampaikan Pimpinan Pondok Pesantren Ittihaadussyubbaan, KH. Ahmad Fakhruddin Murodih kepada Jurnal Depok, Selasa (21/10/2025).

“Pesantren adalah lumbungnya ulama, yang mengajarkan akhlak dan kepribadian mulia, para santri dididik untuk menjadi ummat yang berkarakter, beradab, serta menjunjung tinggi nilai nilai kesopanan,” ujarnya.

Pada peringatan Hari Santri Nasional (HSN) tahun ini, kata dia, dunia pesantren dan santri sedang diuji kepribadiannya.

“Namun kita harus meyakini bahwa ujian ini tidak akan menyurutkan semangat para ulama dan santri untuk terus melangkah guna melaksanakan tugas sebagai pembina ummat,” papar Fakhruddin.

Dia mengingatkan kepada para pihak yang tidak mengerti dan memahami dunia pesantren dan santri, hendaknya tidak melakukan sikap kerdil, sebab ulama dan santri sudah ada sebelum bangsa ini merdeka.

“Kami melihat sentimen negatif yang ditayangkan di segmen acara Xpose sengaja dibuat untuk mencederai nama baik pondok pesantren dan santri, mereka tidak menyadari bahwa ulama yang terlahir dari pondok pesantren memiliki banyak sekali jasa sejak masa perjuangan kemerdekaan hingga berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia,” jelasnya.

Bahkan, sambungnya, sampai saat ini banyak sekali kontribusi pondok pesantren dalam melahirkan ulama-ulama besar yang memiliki kontribusi terhadap pembangunan.

Fakhruddin mengingatkan kepada semua pihak agar tidak coba-coba mengusik keberlangsungan pendidikan di pondok pesantren sebagai lembaga pencetak ulama, karena hal itu dipastikan akan menuai reaksi tajam dari seluruh ummat muslim.

“Peristiwa pelecehan dan penodaan citra kiai dan santri di Ponpes Lirboyo, Kediri Jawa Timur, hendaknya dijadikan pelajaran berharga agar tidak ada lagi yang mencoba-coba melakukan penghinaan, pelecehan dan merendahkan lembaga pencetak ulama di negeri ini. Kami ucapakan Selamat Hari Santri Nasional 2025, Bersama Santri Rawat Negeri,” tutup Fakhruddin. n Asti Ediawan

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here