
Tapos | jurnaldepok.id
Pastor Paroki Gereja Bunda Maria Ratu di Kelurahan Sukatani, Kecamatan Tapos, Romo Dionisius Aditejo Saputro merasa bersyukur indeks nilai toleransi di Depok naik.
“Ya tentu kami mensyukuri bahwa Depok pada tahun ini dari indeks toleransi yang dikeluarkan SETARA Institute telah naik peringkatnya, peringkat toleransinya dari 94 kalau tidak salah ini naik ke 78,” katanya.
Menurut dia, kabar ini menjadi satu prestasi perjuangan, bukan hanya Pemerintah Kota Depok, tetapi juga semua lini dan semua pengambil kebijakan publik.

“Termasuk di antaranya umat Katolik atau Nasrani yang juga turut mendukung dalam upaya mewujudkan toleransi yang ada di Kota Depok. Semangat ini tetap menjadi warna dan sekaligus tujuan serta upaya untuk bagaimana mewujudkan Depok ini memang menjadi kota yang harmoni dan kota yang maju,” tuturnya.
Romo juga berpendapat, selagi semua komponen masyarakat ini bisa mengupayakan dalam perbedaan, bukan untuk disamakan tetapi bagaimana diakui sebagai cara untuk semakin menyempurnakan.
“Kita berbeda bukan untuk disamakan, tetapi untuk menyempurnakan satu dengan yang lain, dan kami kira ini menjadi satu potensi yang kuat,” ujarnya.
Ia beranggapan, Depok sebagai salah satu kota penyangga Jakarta dapat menjadi potensi yang sangat luar biasa.
Namun, kata dia, itu perlu ditekuni dan diseriusi oleh semua pihak, termasuk juga dalam hal ini adalah Pemerintah Kota Depok.
Dalam kesempatan tersebut, ia juga menyoroti kebijakan Wali Kota Depok, H. Supian Suri yang berani mengambil terobosan, di antaranya menunjuk kalangan non Muslim sebagai Camat Sukmajaya.
“Ya, memang kalau mau membuat sebuah terobosan untuk mewujudkan sebuah toleransi ya, bahwa ini menjadi sebuah pencitraan atau apa, tapi bahwa label sebuah toleransi ini harus diwujudkan atau direalisasikan. Kita menerima perbedaan itu kan bukan soal berbicara agama yang sama, tetapi bagaimana mengakui potensi yang berbeda-beda, terlepas dari agama apapun kalau kita mau mengakui dan mau menuju Depok itu yang maju,” katanya.
Ia lantas membandingkan dengan Bekasi, dan Tanggerang yang menurutnya sudah jauh lebih maju.
“Karena mereka mau untuk kemudian sampai pada semangat toleransi, dan kami kira juga Bekasi masuk dalam kategori kota toleransi. Maka dengan adanya camat yang berasal dari non muslim kami kira menjadi gebrakan yang baru untuk wali kota sekarang,” jelasnya.
Ia pun berharap, Depok bisa menuju situasi yang lebih inklusif untuk kemudian menyatakan bahwa daerah ini memang kota toleransi. n Aji Hendro








