Ngaduk Dodol Lebaran Depok, Momen Membangun Kebersamaan Antar Warga

168
Ketua Komisi A DPRD Depok, H. Hamzah didampingi wali kota dan sekretaris daerah saat Ngaduk Dodol Lebaran Depok.

Cilodong | jurnaldepok.id
Di balik aroma manis dan legit dodol yang menguar, tersimpan makna kebersamaan dan semangat gotong royong yang tercermin dalam budaya lokal Betawi Depok. Demikian dikatakan Ketua Komisi B DPRD Kota Depok, H. Hamzah saat menghadiri kegiatan Ngaduk Dodol di Jalan Boulevard GDC, Kecamatan Cilodong.

Dia mengatakan, tradisi Ngaduk Dodol lebih dari sekadar kegiatan memasak. Menurutnya, ngaduk dodol adalah simbol kebersamaan yang diwariskan oleh para leluhur Depok, yang ingin menumbuhkan rasa solidaritas di antara warga.

“Ngaduk dodol bukan hanya tentang memasak, tetapi tentang kebersamaan. Ini adalah warisan nenek moyang kita yang mengajarkan kita untuk saling gotong royong,” ujarnya, Selasa (13/05/25).

Dalam budaya Betawi Depok, kata dia, ngaduk dodol merupakan kegiatan yang mengajak seluruh warga untuk berpartisipasi. Proses memasak dodol melibatkan bahan-bahan seperti gula merah dan kelapa yang dikumpulkan bersama-sama, kemudian dimasak dalam waktu yang lama dengan penuh canda tawa.

“Pembuatan dodol ini tidak bisa dilakukan oleh satu orang saja. Harus melibatkan banyak orang, saling bantu, dan berbicara dengan tetangga. Inilah nilai yang harus kita tanamkan, kebersamaan dalam membangun lingkungan,” jelasnya.

Lebih lanjut Hamzah menjelaskan, filosofi dari ngaduk dodol ini sangat relevan dengan semangat membangun Kota Depok.

Dalam pandangannya, pembangunan kota yang berkelanjutan tidak hanya mengandalkan peran pemerintah, tetapi juga melibatkan peran aktif warga, sebagaimana halnya dalam pembuatan dodol yang harus dikerjakan bersama.

“Pembangunan Depok ke depan harus melibatkan warga. Seperti halnya dodol yang hanya bisa matang dan enak jika diaduk bersama-sama,” pungkasnya. n Aji Hendro

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here