
Sukmajaya | jurnaldepok.id
Pasokan beras di Pasar Agung Kecamatan Sukmajaya relatif aman, namun harganya melambung tinggi.
Kepala Unit Pelaksana Teknis Pasar Agung Sukmjaya, Raden Hermawan mengatakan, untuk persediaan beras saat ini aman. Namun dia mengakui adanya kenaikan harga.
“Untuk beras kemasan 5 kilogram naik Rp 5.000. Stok aman tidak ada kendala, ada kenaikan Rp 5.000 per 5kg beras kemasan. Ini disebabkan cuaca banjir dan gagal panen serta karena badai el nino. Tidak ada kelangkaaan, aman saja ada kenaikan,” katanya.

Sementara itu salah satu pedagang beras Ana menambahkan, kenaikan beras sudah lama terjadi. Bahkan untuk beras premium kini langka di pasaran.
“Enggak banyak ya, harganya tinggi jadi enggak ngambil banyak. Kalau beras yang bagus (premium) memang lagi kosong sejak sebulan ini,” ujarnya.
Saat ini, kata dia, beras premium kemasan 5 kg dibandrol Rp 80.000 yang semula hanya Rp 60.000 atau di atas harga eceran tertinggi (HET).
Sedangkan untuk beras jenis biasa mengalami kenaikan lebih dari Rp 1.000/liter.
“Sudah lama juga. Sebulan ini paling tinggi. Kenaikannya banyak dari Rp 9.300 sekarang sampai Rp 15.000/ kilo. Omzet mah jauh turun lebih dari 50%,” paparnya.
Di lokasi sama, Ayu, salah satu pembeli mengatakan, kenaikan beras terjadi sejak lama. Walaupun naiknya bertahap, namun kali ini dirasa yang paling tinggi. Beras seharga Rp12.000/liter yang biasa dibelinya kini mengalami penurunan kualitas.
“Naiknya banyak banget, makanya tolong diturunin, biasanya masih murah sekarang udah mahal. Biasanya yang harga Rp12.000 sudah bagus, sekarang harga yang sama tapi kualitasnya jelek. Jadi kami beli yang terjangkau biar dapat semua,” harapnya.
Ssementara itu sejumlah ibu rumah tangga di wilayah Parung Bingung, Kelurahan Rangkapan Jaya Baru (RJB), Kecamatan Pancoran Mas, mengeluhkan lonjakan harga sejumlah bahan kebutuhan pokok terutama beras dan telur yang sudah terjadi sebulan menjelang bulan suci Ramadhan.
Kainah salah satu ibu rumah tangga yang tinggal di Jalan RD Sukarma RT 03/03, Kelurahan Rangkapan Jaya Baru (RJB), Kecamatan Pancoran Mas mengaku bingung mengatur uang belanja lantaran pada kurun dua pekan terakhir terjadi kenaikan harga sejumlah komoditas bahan kebutuhan pokok.
Dikatakannya, harga beras kualitas paling jelek yang sebelumnya harganya harganya berkisar antara Rp 10 ribu hingga Rp 11 ribu / kilogram kini mencapai Rp 13.500 / liter atau setara dengan Rp 14.000 / kilogram, sementara untuk beras kualitas agak bagus harganya sudah mencapai Rp 16.000 / kilogram.
“Jujur kami bingung ngatur uang belanja kalau harga sembako terus melonjak apalagi sebentar lagi akan masuk bulan puasa pasti harga sembako akan naik lagi,” keluh Kainah.
Selain beras, melambungnya harga telur dan cabai juga menjadi sorotan para ibu rumah tangga.
“Sebelum pemilu harga cabe merah masih dikisaran Rp 70 hingga Rp 90 ribu sekilo, sekarang harganya mencapai Rp 110 bahkan Rp 120 ribu sekilo, kalau sampai bulan puasa tren kenaikan harga terus terjadi maka itu sangat memberatkan masyarakat,” tukas Nuraini salah satu pedagang sayur mayur di wilayah Kampung Parung Bingung.
Diakuinya setiap menjelang bulan puasa memang kerap terjadi kenaikan harga sembako, namun lanjut dia melonjaknya harga kebutuhan pokok jelang puasa tahun ini terbilang cukup ekstrem dan terjadi jauh sebelum bulan puasa sehingga membuka peluang terjadinya kenaikan harga secara berkelanjutan hingga lebaran Idul Fitri.
“Memang setiap mendekati bulan puasa biasa terjadi kenaikan harga bahan kebutuhan pokok tapi tahun sebelumnya enggak setinggi ini kenaikan harganya dan biasanya terjadi seminggu sebelum puasa, tapi sekarang sebulan sebelum puasa kenaikan harga sudah terjadi dan celakanya tren kenaikan terus meningkat sehingga sangat memberatkan konsumen kami,” tandasnya.
Untuk mencegah terus melonjaknya harga kebutuhan pokok, warga berharap pemerintah melakukan operasi pasar guna menekan laju kenaikan harga sembako.
“Warga sudah pada teriak dengan mahalnya kebutuhan pokok, tolong buat pemerintah untuk segera ambil sikap dengan menggelar pasar murah agar harga kebutuhan pokok bisa kembali normal dan stabil,” pinta Ida Hamidah salah satu ibu rumah tangga. n Asti Ediawan | Aji Hendro








