

Laporan: Asti Ediawan
Sejumlah pedagang timun suri di sepanjang ruas jalan raya Grogol dan Krukut mengeluhkan sepinya pembeli timun suri pada bulan Ramadan tahun ini yang berdampak terhadap menurunnya omzet penjualan dan keuntungan yang didapat.
Maming, pedagang timun suri yang biasa mangkal di dekat gerbang perumahan Vila Mutiara Cinere, RW 15 Kelurahan Grogol, Kecamatan Limo mengakui adanya penurunan minat masyarakat terhadap buah timun suri pada bulan puasa tahun ini.
“Ya puasa tahun ini pembeli agak sepi jika dibandingkan pada bulan puasa tahun lalu, kalau tahun lalu setiap hari saya bisa jual 2,5 kwintal tapi sekarang paling banyak laku 1,5 kwintal atau sekitar 200 buah timun suri itupun kalau cuaca panas dari pagi hingga sore hari,” ujar Maming kepada Jurnal Depok, kemarin.

Dia menambahkan dari penjualan sebanyak 1,5 kwintal, dirinya bisa mengantongi keuntungan sekitar Rp 500 ribu, namun besaran keuntungan itu belum dikurangi dengan perhitungan buah timun yang busuk sehingga tidak bisa dijual.
“Harga relatif masih sama dengan tahun lalu yakni berkisar Rp 10 ribu hingga Rp 15 ribu dan yang ukuran super harganya Rp 20 ribu, kalau tahun lalu saya bisa dapat untuk sekitar Rp 750 ribu dalam sehari, tapi sekarang nyari untung Rp 500 ribu sulit apalagi kalau cuaca enggak panas, malah pernah sehari dagangan saya hanya laku 50 kilo saja,” imbuhnya.
Pengakuan serupa dilontarkan oleh Romelih Bewok pedagang timun suri yang mangkal depan Masjid Daarul Mu’minin di Jalan RD Sukarma, Kelurahan Rangkapan Jaya Baru (RJB), Kecamatan Pancoran Mas.
“Waduh tahun ini sepi, enggak kayak biasanya, tahun tahun sebelumnya biarpun masih ada Covid tapi jualan enggak sepi kayak sekarang, padahal cuaca lumayan bagus,” celoteh Romelih.
Dikatakan Romelih, jualan timun suri merupakan pekerjaan musiman bagi dirinya dan pekerjaan itu sudah puluhan tahun dilakoninya sebagai salah satu sumber pendapatan untuk memenuhi kebutuhan keluarga selama bulan puasa dan kebutuhan lebaran.
“Sejak dulu pekerjaan sehari hari saya memang pedagang buah keliling namun kalau bulan puasa seperti sekarang ini saya enggak keliling karena stok dagangan lebih banyak terutama buah timun suri yang jauh lebih banyak dibanding jenis buah lainnya,” urainya.
Meskipun hingga pertengahan bulan puasa pada tahun ini pembeli timun suri masih relatif sepi, namun Romelih mengaku berharap pada setengah bulan terakhir di bulan Ramadan tahun ini pembeli akan meningkat seiring dengan membaiknya cuaca sejak sepekan terakhir.
“Pada minggu pertama bulan puasa masih suka ada turun hujan, dan dalam sepekan terakhir ini Alhamdulillah cuaca lebih cerah, mudah mudahan sampe lebaran cuaca tetap panas karena kondisi cuaca sangat berpengaruh terhadap hasil dagangan kami para pedagang timun suri,” tutup Romelih. n








