Sambut Hari Santri Nasional, 11 Pesantren di Depok jadi Pilot Project Satgas Hijau

5
Ketua GP Ansor Depok, HM Kahfi saat memberikan cinderamata di acara pelatihan satgas lingkungan dihadapan santri.

Sawangan | jurnaldepok.id
Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kota Depok mendorong pesantren untuk mengambil peran lebih besar dalam menghadapi persoalan lingkungan, khususnya pengurangan dan pengelolaan sampah.

Langkah tersebut diwujudkan melalui program Satgas Hijau Pesantren, sebuah gerakan yang dirancang untuk membangun sistem pengelolaan sampah sekaligus mengubah perilaku warga pesantren dalam menjaga lingkungan.

Program tersebut diawali dengan kegiatan Training of Trainers (TOT) Satgas Hijau Pesantren yang dibuka langsung oleh Ketua PC GP Ansor Kota Depok dan dihadiri oleh perwakilan Pemerintah Kota Depok.

Sebanyak 11 pesantren dari 11 kecamatan di Kota Depok mengikuti kegiatan tersebut. Masing-masing kecamatan mengirimkan satu pesantren sebagai peserta awal atau pilot project program.

Dua praktisi lingkungan menjadi pemateri dalam kegiatan tersebut, yakni Ibu Marni Dewi Yanti, penggiat Bank Sampah, dan Cokky Guntara, penggiat sekaligus pemerhati persoalan sampah.

Ketua PC GP Ansor Kota Depok, H. Muhammad Kahfi mengatakan, Satgas Hijau Pesantren tidak dirancang sebagai kegiatan bersih-bersih yang berhenti setelah acara selesai. Menurutnya, persoalan sampah membutuhkan perubahan perilaku sekaligus sistem pengelolaan yang berjalan secara konsisten.

“Kita tidak ingin pesantren hanya menjadi tempat yang bersih karena ada kegiatan bersih-bersih. Kita ingin membangun sistem dan budaya. Sampah harus dikurangi dari sumbernya, dipilah, diolah, dan kalau memungkinkan memiliki nilai ekonomi,” katanya, Sabtu (26/9/2026).

Ia mengatakan, pesantren memiliki posisi strategis dalam gerakan lingkungan karena pesantren merupakan ruang pendidikan yang membentuk kebiasaan dan karakter generasi muda.

“Kalau kita ingin mengubah perilaku masyarakat, jangan hanya datang ketika sampah sudah menumpuk. Kita harus masuk ke tempat di mana karakter dan kebiasaan dibentuk. Salah satunya adalah pesantren,” ujarnya.

Dalam konsep Satgas Hijau Pesantren, pesantren tidak ditempatkan sebagai penerima program semata. Pesantren didorong menjadi subjek sekaligus pusat gerakan lingkungan. Para peserta TOT akan menjadi penggerak awal yang diharapkan mampu membawa pengetahuan dan sistem pengelolaan sampah ke pesantren masing-masing.

Program tersebut mencakup edukasi pengurangan sampah, pemilahan sampah dari sumber, pengembangan bank sampah, pengolahan sampah organik, pengelolaan sampah anorganik, serta pembentukan kebiasaan hidup bersih di lingkungan pesantren.

“Kami ingin setiap pesantren nantinya memiliki orang yang memahami persoalan sampah, memiliki sistem pemilahan, dan mampu menggerakkan santri. Jadi bukan hanya punya tempat sampah, tetapi punya tata kelola sampah,” ucap Kahfi.

Sebelas pesantren yang mengikuti TOT merupakan tahap awal dari gerakan yang akan dikembangkan secara bertahap. GP Ansor Depok berencana memperluas program tersebut ke pesantren-pesantren lain di Kota Depok.

“Sebelas pesantren ini adalah titik awal, bukan titik akhir. Setelah para peserta kembali ke pesantrennya masing-masing, kami akan melakukan pendampingan dan mendorong replikasi ke pesantren lainnya,” tukasnya.

Dengan pola tersebut, Satgas Hijau Pesantren diharapkan dapat berkembang menjadi jejaring pesantren yang memiliki kesadaran dan sistem pengelolaan sampah secara mandiri.

Kegiatan TOT juga dihadiri oleh perwakilan Pemerintah Kota Depok. Kehadiran pemerintah menjadi momentum untuk memperkuat kolaborasi antara organisasi kepemudaan, pesantren, komunitas lingkungan dan pemerintah.

GP Ansor Depok memandang persoalan sampah tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak. Diperlukan kolaborasi antara pemerintah sebagai pembuat kebijakan, pesantren sebagai pusat pendidikan dan komunitas, organisasi masyarakat sebagai penggerak, dunia usaha sebagai mitra, serta masyarakat sebagai pelaku utama perubahan perilaku.

“Kami tidak ingin berjalan sendiri. Kalau pemerintah punya kebijakan, pesantren punya komunitas, Ansor punya kader penggerak, dan dunia usaha punya sumber daya, semuanya bisa dipertemukan dalam satu gerakan,” ungkapnya.

Selain aspek lingkungan, Satgas Hijau Pesantren juga diarahkan untuk melihat sampah sebagai peluang ekonomi. Pengembangan bank sampah dan pengolahan sampah diharapkan dapat menjadi pintu masuk bagi pesantren untuk mengembangkan aktivitas ekonomi sirkular.

Dengan demikian, gerakan ini tidak berhenti pada slogan “pesantren bersih”, tetapi berkembang menuju “pesantren yang mampu mengelola sampah secara mandiri dan produktif.”

GP Ansor Depok berharap model Satgas Hijau Pesantren dapat terus dikembangkan dan direplikasi di lebih banyak pesantren. Gerakan ini juga diharapkan menjadi kontribusi nyata organisasi kepemudaan dalam menghadirkan solusi atas persoalan lingkungan di tingkat masyarakat.

“Kami ingin memulai dari sesuatu yang sederhana, tetapi dikerjakan secara serius dan konsisten. Dimulai dari 11 pesantren, kemudian diperluas. Kalau model ini berhasil, bukan tidak mungkin gerakan serupa dapat direplikasi di daerah lain,” tuturnya.

Bagi GP Ansor Depok, menjaga lingkungan bukan hanya persoalan teknis, tetapi bagian dari tanggung jawab sosial dan moral. n Aji Hendro

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here