Gelar Acara Syawalan, Warga Kelurahan Tanah Baru Lestarikan Budaya

135
Wali Kota Depok, H. Supian Suri saat menghadiri acara Syawalan.

Laporan: Aji Hendro
Sebagai upaya menjaga dan melestarikan tradisi Betawi Warga di Kelurahan Tanah Baru, Kecamatan Beji menggelar tradisi Syawalan.

Kegiatan Tradisi Syawalan dipusatkan di Lapangan Gaban yang dibuka oleh Wali Kota Depok, Supian Suri.

Ketua Panitia Syawalan Tanah Baru, Minin mengatakan, kegiatan Syawalan ini merupakan pertama kali digelar oleh warga Tanah Baru. Gelar Syawalan ini dimulai dengan arak-arakan atau pawai para peserta setiap RW di Tanah Baru. Pada arak-arakan warga ada yang membawa makanan menu Betawi dengan rantangnya.

“Kami gelar Syawalan ini untuk membangkitkan kembali tradisi Hari Raya Lebaran di Depok,” katanya, Minggu (29/3/2026).

Wali Kota Depok, Supian Suri mengapresiasi warga Tanah Baru yang sudah melestarikan tradisi di Kota Depok.

“Kami bangga masih ada warga Depok yang mau melestarikan tradisi budayanya salah satunya dengan menggelar Syawalan ini,” katanya.

Supian berharap, kegiatan Syawalan ini dijadikan agenda tahunan oleh warga di Tanah Baru sehingga tradisi budaya Depok tidak hilang.

Sementara itu, Ketua Kebudayaan Daerah Kota Depok, Nuroji menegaskan, Syawalan bukan ritual keagamaan, melainkan bagian dari pelestarian budaya lokal.

“Ini merupakan pelestarian budaya kita. Saya sangat bangga dengan masyarakat Tanah Baru, seluruh RW bisa menjaga tradisi yang ada di kampung kita,” katanya.

Nuroji menjelaskan, rangkaian Syawalan dimulai dengan puasa Syawal, dilanjutkan dengan halal bihalal, serta tradisi ‘ngejot’ bagi yang masih memiliki daging kebo (kerbau). Tradisi ini, menurut Nuroji, mampu memperkuat ikatan sosial antarwarga. Selain sebagai pelestarian budaya, Syawalan memiliki makna penting dalam mempererat silaturahmi.

Nuroji menekankan bahwa kegiatan ini menjadi momentum saling memaafkan bagi warga yang belum sempat bertemu selama Lebaran.

“Yang selama ini belum ketemu di rumah saat Lebaran, sekarang bisa saling memaafkan. Nilai inilah yang membuat tradisi kita tetap hidup dan relevan,” ungkap Nuroji.

Dia menambahkan, menjaga tradisi lokal tidak hanya soal adat, tetapi juga identitas masyarakat Depok yang harus tetap dijaga di tengah modernisasi.

“Budaya adalah jati diri kita. Kalau kita tidak merawatnya, generasi berikut akan kehilangan akar mereka,” pungkasnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here