Didaftarkan jadi WBTB, Wali Kota Depok Bersama KOOD Lestarikan Tradisi Motong Kebo Andil

238
Wali Kota Depok, H. Supian Suri saat menyaksikan pemotongan Kebo Andil.

Cilodong | jurnaldepok.id
Tradisi Motong Kebo Andil Kota Depok didaftarkan jadi bagian dari Warisan Budaya Tak Benda. Demikian dikatakan Ketua Kumpulan Orang Orang Depok, H Dahlan saat kegiatan Tradisi Motong Kebo Andil di kawasan Kelurahan Jatimulya, Kecamatan Cilodong.

Dia menambahkan, pihaknya bersama Dinas Pemuda Olahraga dan Kebudayaan (Disporyata) Kota Depok sudah mendaftarkan Tradisi Motong Kebo Andil Depok sebagai Warisan Budaya Tak Benda.atau WBTB.

“Kita sudah daftarkan dan infonya masih ada beberapan kekurangan adminitrasi, nantinya kita akan lengkapi,” katanya, Rabu (18/3/2026).

Dikatakannya, kegiatan Motong Kebo Andil merupakan salah satu tradisi warga Kota Depok menjelang Hari Raya Lebaran atau Idul Fitri.

“Biasanya leluhur kita dulu jelang lebaran ngadain motong kebo andil. Namun karena perkembangan jaman, tradisi Kebo Andil saat ini nyaris hilang,” paparnya.

Dari itu, pihaknya bersama Pemerintah Kota Depok terus melestarikan tradisi yang diwariskan orang tua terdahulu agar tidak punah salah satunya Motong Kebo Andill. Dahlan berharap, tradisi pemotongan Kebo Andil dapat dilangsungkan dan dihidupkan kembali setiap tahun.

“Mungkin sekarang gampang untuk membeli daging. Namun dari Kebo Andil ini kita dapat belajar karena ada nilai kebersamaan, kekeluargaan, nasehat dan gotong royong untuk mempersiapkan lebaran,” tukasnya.

Di zaman dahulu, kata Dahlan, memotong Kebo Andil sebuah momen yang ditunggu-tunggu terutama oleh anak-anak.

“Karena di zaman dulu untuk makan daging itu setahun sekali yakni saat lebaran saja, jadi itu hal yang luar biasa,” ungkapnya.

Kegiatan Motong Andil Kebo sebagai upaya melestarian budaya yang sebelumnya dijalankan oleh masyarkat leluhur.

Dikatakan Dahlan, tradisi ini tidak sekadar proses penyembelihan dan distribusi daging, melainkan juga mengandung makna kebersamaan serta keadilan sosial. Melalui tradisi andilan, masyarakat diajarkan untuk berkolaborasi dan saling membantu dalam memenuhi kebutuhan bersama menjelang hari Raya Idul Fitri atau Lebaran.

Di lokasi sama Wali Kota Depok, H. Supian Suri mengapresiai langkah KOOD yang terus berkomitmen untuk merawat, menjaga dan mewarisian tradisi Kota Depok.

“Kita punya kewajiban dan harus bangga karena budayanya yang masih ada dan tetap dilestarikan seperti Motong Kebo Andil. Budaya Motong Kebo Andil ini bisa menjadi ajang wisata dan sesuatu mengenang kegiatan yang masa lalu. Warga Depok tetap guyub dan untuk menghargai, serta menjaga kampungnya,” jelasnya.

Selain Motong Kebo Andil ada kegiatan lainnya yakni Ngaduk Dodol yang merupakan salah satu tradisi di Kota Depok.

“Tahun Depan bisa kita tambahkan Ngaduk Jipang, jadi ada Ngaduk Dodol, Motong Kebo Andil,” katanya.

Esensi dari kedua kegiatan ini yakni Motong Kebo Andil dan Ngaduk Dodol merupakan kebersamaan, kegotong royongan, keguyuban yang perlu dipertahankan serta perlu dilestarikan.

“Sehingga kedepannya tradisi Motong Kebo Andil Kota Depok menjadi Warisan Budaya Tak Benda Kota Depok,” jelasnya.

Ketua Panitia Tradisi Motong Kebo Andil 2026, H. Maksum menambahkan, ada sekitar tujuh ekor kerbau yang disembelih.

“Kebo Andil ini artinya persiapan untuk menghadapi hari raya besar, yaitu Idulfitri. Orang-orang kampung dengan kesederhanaannya ingin makan daging saat hari raya. Maka, mereka menabung sedikit demi sedikit sejak setahun sebelumnya,” tandasnya.

Menurut Maksum, warga biasanya mulai menabung sejak satu bulan setelah Lebaran. Tabungan ini bisa dikumpulkan melalui kelompok pengajian, RT, atau komunitas lainnya.

“Kemudian, dua bulan sebelum Hari Raya Idulfitri, uang yang terkumpul digunakan untuk membeli kerbau sesuai kemampuan. Pada hari raya Lebaran, kerbau tersebut disembelih dan dagingnya dibagikan kepada warga,” pungkasnya. n Aji Hendro

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here