
Laporan: Aji Hendro
Warga di RT 06/07 Kampung Rawa Geni, Kelurahan Ratujaya, Kecamatan Cipayung, melakukan upaya pengolahan sampah rumah tangga.
Salah satunya adalah melakukan pengolahan sampah pampers menjadi barang bermanfaat seperti dijadikan pot tanaman hias.
Pengagas pengolahan pampers jadi Tanaman Hias, Edo kepada wartawan mengatakan, popok sekali pakai atau pampers mesti diwaspadai. Terlebih, belakangan ini semakin banyak pengguna diapers baik bayi maupun lanjut usia.

Ditambahkan, dengan bahan pokok 55 persen plastik, dibutuhkan waktu lama untuk terurai. Bahkan penguraiannya bisa 20-35 tahun. Selain susah diurai, diapers dan pembalut mengandung senyawa kimia Super Absorbent Polymer (SAP) sebanyak 42% yang akan berubah bentuk menjadi gel saat terkena air.
“Apabila terurai dalam air, zat kimia ini dapat berbahaya bagi lingkungan. Senyawa ini dapat menyebabkan perubahan hormon pada ikan dan hewan lainnya. Namun, tak banyak orang yang mengerti jika sampah tersebut bisa diolah,” ujarnya.
Untuk itu, ia bersama warga berupaya mengedukasi masyarakat agar tak sekadar memakai popok sekali pakai dan pembalut wanita, tapi juga dapat mengolahnya.
Edo menerangkan, gel yang ada di dalam pampers dapat digunakan untuk menampung air yang disiramkan agar tanah tidak cepat mengering. Sehingga dapat mengurangi intensitas penyiraman karena air akan tertampung oleh gel dan dialirkan secara perlahan.
Dia bersama warga membersihkan pempers bekas dengan alat yang sangat sederhana hingga menghasilkan air pempers dan gel. Gel dari diapers digunakan sebagai POC (pupuk organik cair), sedangkan kain pelapis atau kapasnya dipakai sebagai bahan untuk membuat pot.
“Proses pembuatan pot ini sangat sederhana. Kain bekas pempers dicelupkan ke dalam adonan semen. Dengan perbandingan 7 cetok semen : 2 liter air. Pempers dicelupkan dan dicetak dengan media ember bekas. Maka jadilah pot unik itu,” katanya.
Setelah mengering, sambungnya, kemudian pot diwarnai. Sehingga muncul nuansa artistiknya.
“Siapa sangka jika pot cantik itu terbuat dari pampers bekas. Kesan pampers bekas yang menjijikkan pun hilang seketika. Tak ada sampah yang tak bisa diolah. Semua bisa, seburuk apapun sampah itu,” paparnya.
Ketua RW 07 Kampung Rawageni, Kelurahan Ratujaya, Cipayung Sanusi menambahkan, untuk pengolahan sampah pampers jadi pot tanaman hias sudah dimulai sejak dua bulan lalu.
“Ya, kami ajak anak-anak sekitar RW 07 untuk membuat pot bunga berbahan dasar popok bekas. Alhamdulillah responsnya sangat baik dan mereka sangat antusias,” tandasnya.
Selain popok, kata Sanusi, bahan dasar pembuatan pot yaitu dengan sagu dan sedikit semen. Gel popok juga digunakan untuk campuran media tanam, sehingga tidak ada bahan yang terbuang.
“Awalnya, kami melihat popok di kali, banyak dan tersangkut di saluran air. Untuk itu, kami coba berinovasi mengurangi sampah dengan memanfaatkan limbah tersebut untuk dijadikan barang berguna,” katanya.
Sanusi menyebut, tak hanya mengurangi sampah popok, kegiatan ini juga untuk mengajak masyarakat dan anak-anak generasi penerus, agar peduli terhadap lingkungan. Dirinya berharap, semakin banyak masyarakat yang tergugah untuk ikut mengurangi sampah.
“Mudah-mudahan kegiatan seperti ini bisa menjadi contoh warga sekitar untuk sadar dalam pemilahan dan pengolahan sampah, agar volume sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipayung, bisa signifikan berkurang,” pungkasnya. n








