Dewan Kebudayaan Daerah Sajikan Opera ‘Gugurnya Letnan Margonda’ di Lebaran Depok

13
Dewan Kebudayaan Daerah (DKD) Kota Depok beserta tim saat latihan opera.

Laporan: Aji Hendro
Dewan Kebudayaan Daerah (DKD) Kota Depok mengajak warga untuk menyaksikan pertunjukan Letnan Margonda di panggung Lebaran Depok 2026 pada Sabtu (9/5/2026) di Alun-Alun Timur Kawasan GDC Cilodong. Pertunjukan Opera Margonda akan tampil sekitar pukul 19.30 WIB sebelum Band Wali.

Ketua DKD Kota Depok, Nuroji kepada wartawan mengatakan, persiapan pementasan Opera ‘Gugurnya Letnan Margonda’ saat ini hampir selesai.

Pertunjukan opera ini siap mengguncang Lebaran Depok 2026 dan seluruh proses latihan kini memasuki tahap akhir berupa gladi resik.

“Persiapan sudah selesai latihannya, tinggal gladi resik. Mudah-mudahan semua berjalan lancar,” katanya, Kamis (7/5/2026).

Agenda gladi resik dijadwalkan berlangsung pada Jumat (8/5) bertepatan dengan kegiatan diskusi kebudayaan yang juga akan diisinya sebagai bagian dari DKD Depok.

Pertunjukan ‘Gugurnya Letnan Margonda’ akan menyajikan pertunjukan lintas seni yang memadukan tari, teater, musik, hingga drama dalam satu panggung.

Nuroji juga menyebut, cerita yang diangkat menggambarkan perjalanan sejarah Depok, mulai dari kehidupan awal masyarakat, penemuan kesenian tradisional Gongsi Bolong, hingga masa kolonial Belanda dan kisah perjuangan Letnan Margonda.

Perlu diketahui, Margonda bergabung dengan Batalion I di Depok untuk melawan NICA dan sekutu yang mencoba kembali menguasai Indonesia.

Ia gugur dalam usia 27 tahun pada 16 November 1945 dalam pertempuran sengit di front Kalibata. Kalibata di sini bukan di Jakarta, melainkan wilayah Depok.

“Tentang perjalanan sejarah Depok mulai dari kehidupan, penemuan kesenian tertua di Depok yaitu Gongsi Bolong. Ya berjalan sampai masuknya Belanda lalu sampai ke Margonda,” katanya.

Warga Kota Depok mesti tahu bagaimana perjuangan Letnan Margonda melawan penajajah Belanda.

Dalam Opera Depok tersebut nantinya akan dijelaskan ceritanya dengan adegan para pemerannya.

Perjuangan Letnan Margonda patut diapresiasi karena saat ini Kota Depok sudah menjadikan nama Margonda sebagai jalan utama.

Sejumlah sanggar seni turut dilibatkan dalam pementasan ini, di antaranya Betawi Ngoempoel, Larasati, Betawi Ora, hingga Kinang Putra.

Selain itu, sambung Nuroji, kelompok Perempuan Indonesia Raya serta pelajar dari Sekolah Master juga ikut ambil bagian. Penampilan utama akan dibawakan oleh penari Rosmala Sari Dewi.

“Warga Depok nyok jangan lewatkan bagaimana perjuangan Letnan Margonda dalam membela Tanah Air Indonesia. Saksikan pasti ada letupan-letupan dalam ceritanya nanti,” ungkapnya.

Dia menambahkan, kolaborasi lintas komunitas ini menjadi kekuatan utama opera tersebut, sekaligus mencerminkan semangat keberagaman budaya yang ingin ditampilkan.

Dia turut menanggapi wacana penguatan Lebaran Depok melalui regulasi daerah. Nuroji menilai, payung hukum tidak harus berbentuk peraturan daerah (Perda), melainkan cukup melalui peraturan wali kota (Perwal) sebagai turunan dari Perda pemajuan kebudayaan yang telah ada.

Dia mendorong agar kegiatan budaya di Depok tidak berhenti pada Lebaran Depok saja. Dalam kesempatan itu, dia mengusulkan berbagai agenda lain seperti festival budaya Sunda, pertunjukan wayang golek, hingga festival kuliner Minang sebagai bagian dari penguatan identitas multikultural kota.

Nuroji pun berharap, Lebaran Depok dapat terus berkembang menjadi ikon budaya tahunan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat melalui sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. n Aji Hendro

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here