
Kota Kembang | jurnaldepok.id
Wali Kota Depok, H. Supian Suri mengapresiasi kegiatan Lebaran Depok yang mengusung tagline ‘Depok Rumah Kita’
“Tentu kami bersyukur dengan gelaran Lebaran Depok tahun ini yang mampu menjadikan Depok sebagai rumah kita bersama. Jadi bukan hanya sekedar tagline, namun kalau dilihat rasa-rasanya Depok kini sudah menjadi rumah yang nyaman bagi semua,” ujar Supian.
Hal itu, kata Supian, dapat dibuktikan dengan beragam macam suku yang saat ini bermukim di wilayah Depok.

“Dari itu, di kegiatan Lebaran Depok tahun ini kami sengaja menampilkan beberapa kesenian dari berbagai daerah di Indonesia seperti Reog Ponorogo, Ogoh Ogoh, Lenong dan yang lainnya,” paparnya.
Sementara itu Kepala Dinas Pemuda Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata Kota Depok, Eko Herwiyanto mengatakan, Lebaran Depok yang sudah digelar ke tujuh. Pemerintah Kota (Pemkot) dan DPRD memberikan dukungan kepada kegiatan Lebaran Depok ini.
Dia mengatakan dari regulasi yang ada Lebaran Depok ini adalah adat istiiadat, tradisi yang sudah masuk kedalam 10 kemajuan budaya. Dari itu, Pemerintah Kota Depok akan siap mendaftarkan Lebaran Depok sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia.
“Rangkaian Lebaran Depok ini dalam rangka mempertahankan ketahanan kebudayaan,” ujarnya.
Lebaran Depok teratat di Perda Kota Depok No. 3 Tahun 2023 tentang Pemajuan Kebudayaan (ditetapkan 31 Juli 2023) adalah payung hukum utama yang mengatur pelestarian, pengembangan, dan pemanfaatan kebudayaan lokal, khususnya budaya Betawi Depok. Perda ini mencakup pembentukan dewan kebudayaan, musyawarah kebudayan.
“Dan kami akan mempersiapkan regulasinya dan tahap-tahapnya agar Lebaran Depok didaftarkan sehingga dijadikan sebagai Warisan Budaya Tak Benda,” ungkapnya.
Di lokasi sama, Ketua Kumpulan Orang-orang Depok (KOOD), Ahmad Dahlan mengatakan, pihaknya baru saja mengusulkan salah satu tradisi khas Depok agar bisa masuk ke daftar Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia.
Hal itu terinspirasi usai dirinya mengikuti forum budaya di tingkat Provinsi Jawa Barat (Jabar) dan kementerian terkait. Sehingga, KOOD bersama masyarakat budaya Depok mengusulkan agar Lebaran Depok dapat diajukan sebagai WBTB tambahan dari Kota Depok.
“Kami mengusulkan Lebaran Depok sebagai WBTB tambahan di Kota Depok. Mudah-mudahan bisa dibantu juga oleh Disporyata,” ucapnya.
Dirinya menjelaskan, saat ini Kota Depok sudah memiliki dua warisan budaya yang tercatat di tingkat nasional, yaitu Gong Sibolong dan Tari Topeng Cisalak. Sementara, di tingkat Provinsi Jawa Barat, tradisi Rebut Dandang juga telah diakui. Karena itu, Lebaran Depok dinilai layak menjadi WBTB berikutnya.
“Lebaran Depok ini syarat sekali dengan muatan budaya. Makanya saya sampaikan langsung ke Menteri Kebudayaan agar bisa diusulkan menjadi WBTB milik Depok,” tuturnya.
Ia berharap bahwa KOOD semakin dikenal luas dan budaya Depok makin terangkat. Dahlan juga menekankan, Lebaran Depok memiliki nilai penting sebagai perekat kerukunan. Dirinya mencontohkan, bagaimana dalam perayaan Lebaran Depok, seluruh suku yang ada di Depok ikut ditampilkan, mulai dari Bali, Minang, Aceh, hingga suku-suku lainnya.
“Informasi dari Kesbangpol, di Depok ada sekitar 30 suku yang tinggal. Alhamdulillah, lewat budaya dan tradisi, kami bisa duduk bareng, rukun. Contohnya di Lebaran Depok kemarin, semua suku ditampilkan dan Pak Wali sangat mendukung. Itu luar biasa,” ungkapnya.
Ketua Panitia Lebaran Depok 2026, Hamzah menambahkan, beberapa tradisi kegiatan yang ditampilkan pada Lebaran Depok. Antara lain Ngubek Empang, Ngaduk Dodol dan Cuci Perabot.
“Dari situlah Pemerintah Kota (Pemkot) Depok mengusulkan Lebaran Depok menjadi warisan budaya tak benda. Jadi bukan cuma salah satu kegiatannya, tapi Lebaran Depoknya. Namun lagi, ini adalah ikhtiar kita masih. Nanti progresnya masuk dulu segala yang dibutuhkan ke Pemprov Jabar, baru bisa sampai ke Kementrian Kebudayaan,” pungkasnya. n Aji Hendro








