

Jakarta | jurnaldepok.id
Pemerintah Kota (Pemkot) Depok siap menjadikan kawasan Depok Lama sebagai cagar budaya nasional. Hal itu dikatakan Wali Kota Depok, H. Supian Suri saat bertemu dengan Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon.
“Ini dari Kota Depok bisa silaturahim kami terima kasih Pak Menteri Kebudayan Fadli Zon dan jajarannya atas kesempatan kami bisa bersilaturahmi,” kata wali kota kepada Fadli Zon.
Supian mengatakan, pertemuannya dengan Menteri Kebudayaan adalah dalam rangka untuk mengembalikan sejarah terkait tentang lahirnya Kota Depok. Dalam hal ini salah satunya adalah kawasan Depok Lama
“Saya sampaikan dengan istilah Belanda Depok salah satu upaya yang kita ingin wujudkan adalah mengembalikan fungsi gedung dan mungkin Secara pemanfaatannya salah satunya adalah museum yang menarik dari Depok lama. Jadi tidak hanya berupa objek atau situsnya saja, akan tetapi kawasan Depok Lama adalah petilasan yang di dalamnya masih ada living heritage,” ujarnya.
Sementara itu, Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon mengatakan, pihaknya
sangat mendukung semua upaya untuk revitalisasi cagar-cagar budaya yang ada di setiap Kota/Kabupaten. Termasuk cagar budaya yang ada di Kota Depok di Depok lama.
“Kita berharap malah ada percepatan di dalam registrasi verifikasi dari cagar cagar budaya tersebut sehingga bisa menjadi cagar budaya nasional,” katanya.
Fadli Zon menambahkan, Depok Lama bukan sekadar kawasan tua. Menurutnyam disana adalah ruang ingatan, jejak sejarah, dan identitas yang masih terasa hingga hari ini.
“Saya bersama Walikota Depok Supian Suri berdiskusi di Kementerian Kebudayaan tentang langkah konkret merevitalisasi kawasan ini, termasuk Jalan Pemuda, agar tetap hidup sebagai ruang budaya sekaligus memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat,” ujarnya.
Revitalisasi bukan hanya memperbaiki fisik bangunan. Lebih dari itu, ini tentang melindungi dan memanfaatkan warisan budaya secara bijak.
“Depok Lama masih menyimpan karakter kolonial Belanda yang kuat, dan itu adalah bagian dari sejarah yang harus dirawat, bukan dihapus,” tukasnya.
Kementerian Kebudayaan siap mendukung percepatan prosesnya. Kolaborasi pusat dan daerah menjadi kunci, agar pelestarian berjalan terarah dan berkelanjutan.
“Karena menjaga heritage bukan soal masa lalu semata, tetapi tentang memastikan generasi mendatang tetap punya akar dan kebanggaan,” pungkasnya. n Aji Hendro








