
Beji | jurnaldepok.id
Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) tidak menganggu bahkan menghilangkan program BPJS Kesehatan Penerima Bantuan Iuran (PBI).
Kepala SPPG Bogor Chaidir mengatakan itu saat kegiatan sosialisasi dalam rangka gerakan mendukung program MBG bersama Mitra Kerja Komisi IX DPR RI di kawasan Beji, Depok.
Dia mengatakan, setiap ada masalah seperti penonakfifan BPJS PBI yang disalahkan program MBG. Dan masalah lainnya kadang program MBG yang disalahkan.

“Kalau ada masalah ini itu, kadang MBG yang disalahkan,” katanya, Kamis (12/2/2026).
Dia menambahkan, persepi tersebut semuanya salah. Karena setiap anggaran sudah diatur oleh Pemerintah Pusat. Dia menegaskan bahwa penonaktifan BPJS PBI tidak ada kaitannya dengan program MBG.
“Program MBG yang sudah berjalan selama satu tahun dinilai banyak manfaatnya. Banyak yang dirasakan oleh penerjma manfaat mulai dari anak-anak hingga ibu hamil,” ujarnya.
Manfaat MBG bukan hanya dirasakan oleh penerima manfaat saja, tetapi juga para distributor sembako dan warga sekitar yang menjadi tenaga kerja.
Tujuan utama dari Program MBG adalah untuk mengurangi angka malnutrisi dan stunting yang masih menjadi permasalahan serius di Indonesia, khususnya pada kelompok rentan. Kelompok tersebut meliputi balita, anak-anak, ibu hamil, dan ibu menyusui.
“Program ini bertujuan untuk memastikan bahwa kebutuhan gizi harian masyarakat, terutama di kalangan anak-anak dan ibu, dapat tercukupi dengan baik sesuai dengan standar Angka Kecukupan Gizi (AKG),” ungkapnya.
Dengan menyediakan makanan bergizi bagi siswa, program ini dapat meningkatkan konsentrasi dan kemampuan belajar mereka.
“Makanan yang sehat dapat mendorong partisipasi siswa dalam kegiatan sekolah dan mengurangi angka putus sekolah, yang sangat penting dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia,” tegasnya.
Di lokasi sama, anggota Komisi IX DPR RI, Nuroji menambahkan, saat ini masih ada segelintir orang yang kerap menjelekan program MBG.
Dia mengatakan, MBG memiliki banyak manfaat dan dihimbau kepada warga Kota Depok jangan terpancing dengan info-Info yang tidak benar. Dia menduga ada pihak yang menginginkan agar MBG diganti dengan pemberian uang tunai.
“Kalau pemberian uang tunai, kami rasa itu tidak tepat sasaran dan kerap disalahgunakan,” katanya.
Nuroji mengambil contoh seperti bantuan-bantuan uang tunai kepada siswa yang kurang mampu. Kenyataan di lapangan bantuan berupa uang tunai untuk siswa tidak mampu digunakan bukan untuk kebutuhan sekolah siswa itu sendiri. Dia mengajak warga Kota Depok untuk mendukung program MBG.
“Ada yang digunakan bayar itu, bayar ini oleh orang tua siswa sehingga anaknya tidak merasakan bantuan untuk sekolah,” pungkasnya. n Aji Hendro








