

Oleh: KH. Syamsul Yakin
Penulis Buku “Retorika: Pendekatan Konseptual dan Praktikal”
Retorika dakwah Rasulullah berikutnya, terekam apik di dalam al-Qur’an, “Katakanlah, “Sesungguhnya tidak ada seorang pun yang dapat melindungiku dari (siksa) Allah dan aku tidak akan memperoleh tempat berlindung selain-Nya” (QS. al-Jin/72: 22). Secara sosio-historis, minimal ada dua pendapat ulama terkait dengan asbabun nuzul ayat ini. Asbabun Nuzul adalah latar belakang diturunkan satu ayat di dalam al-Qur’an seperti pertanyaan, peristiwa, atau satu kondisi tertentu.
Pertama, sebagian ulama memandang ayat ini turun bagi kalangan manusia, yakni kaum kafir. Kedua, Imam al-Suyuthi di dalam Lubabun Nuqul, meriwayatkan bahwa ada pembesar dari kalangan jin yang sesumbar, “Sebenarnya yang diinginkan Muhammad adalah agar Allah melindunginya, padahal kalau dia mau, aku dapat memberinya perlindungan”. Bersumber dari Ibnu Jarir, diriwayatkan bahwa kemudian setelah itu Allah menurunkan ayat di atas, sebagai respons terhadap sesumbar pembesar dari kalangan jin tersebut.
Yang dimaksud pembesar kalangan jin ini tak lain adalah iblis. Iblis telah bersumpah untuk menghalang-halangi manusia berbuat kebaikan. Allah merekam hal itu di dalam al-Qur’an, “Iblis menjawab, “Karena Engkau telah menghukumku tersesat, maka aku benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan-Mu yang lurus, kemudian aku akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur” (QS. al-A’raf/7:16-17).
Manakala ayat ini (QS. al-Jin/72: 22) turun sebagai respons bagi kalangan kafir Quraisy dan orang-orang Thaif yang menolak dakwah Rasulullah, maka ayat ini merupakan bagian selanjutnya dari retorika dakwah Rasulullah. Namun apabila ayat ini turun sebagai respons bagi pembesar kalangan jin, maka ayat ini merupakan retorika dakwah Rasulullah pertama yang dilancarkan bagi pembesar kalangan jin tersebut. Pembesar kalangan jin ini tentu mewakili semua jin yang menolak dakwah Nabi. Mereka adalah jin kafir.
Kepada mereka yang menolak dakwah beliau, Rasulullah beretorika, “Apabila aku berbuat durhaka kepada Allah, maka tidak ada seorang pun yang dapat menolong aku dari siksa. Begitu juga kalian. Kalian akan disiksa oleh Allah dan tidak ada yang dapat menolong apabila kalian mendurhakai Allah. Kalau aku saja tidak dapat menemukan tempat berlindung yang aman dari siksa-Nya, apalagi kalian yang tidak menerima dakwah ini. Saat ini yang dapat aku lakukan adalah menyampaikan kepada kalian risalah-Nya”.
Risalah dakwah Rasulullah yang disampaikan secara retoris kepada kaum.kafir bersumber dari pesan-pesan Allah, yakni al-Qur’an. Isi wahyu itu minimal ada tiga pilar. Pertama, akidah atau tauhid, yakni seruan untuk mengesakan Allah. Kedua, syariah atau ibadah, yakni seruan beribadah kepada Allah seperti shalat, puasa, zakat, dan pergi haji. Ketiga, akhlak atau budi pekerti yang baik sebagai buah dari akidah dan syariah. Fungsi risalah adalah sebagai pedoman hidup.
Dari retorika dakwah Rasulullah di atas dapat dipahami beberapa hal. Pertama, agar mendapat perlindungan dari Allah maka rasulullah tidak boleh berhenti berdakwah kendati mendapat penolakan yang keras dari kaum kafir. Sementara bagi kaum kafir sendiri seyogyanya berhenti menyembah selain Allah dan sesegera mungkin mengikuti dakwah. Tujuannya agar kaum kafir juga terhindar dari siksa yang pedih. Seperti firman Allah sendiri, “Sesungguhnya siksa-Ku sangat pedih” (QS. Ibrahim/14: 7).
Kedua, bagi kalangan jin juga demikian. Apabila mereka ingin mendapatkan perlindungan dari Allah dan terbebas dari siksa-Nya, maka mereka harus mengikuti dakwah Rasulullah. Sesumbar mereka yang mengaku dapat melindungi Rasulullah adalah anggapan mereka saja. Sebab hanya Allah yang dapat melindungi makhluk-Nya. Seperti sudah dijelaskan pada pembahasan sebelumnya, tidak semua kalangan jin kafir, mereka juga ada yang muslim. Bahkan di kalangan mereka juga berlaku hukum hukum syariah dan dakwah.
Jadi tak ada pilihan bagi manusia dan kalangan jin selain menerima dakwah Nabi. Efek positifnya, mereka akan dilindungi oleh Allah dan mendapat tempat berlindung dimana tidak perlindungan pada hari kiamat nanti selain dari-Nya.*








