Rumah Pompa Komplek Marinir Dinilai Tak Maksimal Atasi Banjir

352
Inilah bangunan rumah pompa di Komplek Marinir, Pancoran Mas.

Pancoran Mas | jurnaldepok.id
Sejumlah warga komplek Marinir RW 06, Kelurahan Rangkapan Jaya Baru (RJB), Kecamatan Pancoran Mas mengaku kecewa terhadap keberadaan rumah pompa air yang tidak mampu diandalkan untuk mengatasi masalah banjir yang kerap menggenangi semua sudut wilayah komplek Marinir saat hujan deras.

Hasbulloh salah satu warga setempat bahkan meminta kepada aparat berwenang untuk melakukan investigasi dan penyelidikan terkait proses pengadaan bangunan rumah pompa air berikut fasilitasnya yang konon menghabiskan dana anggaran lebih dari Rp 850 juta.

“Kami selaku warga tentu sangat kecewa karena rumah pompa air yang diharapkan dapat mengatasi masalah banjir dilingkungan kami ternyata tidak berfungsi, ini artinya ratusan juta uang rakyat terbuang percuma lantaran keberadaan rumah pompa air ini sama sekali tidak ada manfaatnya untuk mengatasi banjir,” ujar Hasbulloh kepada Jurnal Depok, Rabu (05/11/25).

Tak hanya warga, pengurus lingkungan setempat juga mengaku sangat tidak puas dengan nilai manfaat dari keberadaan rumah pompa air yang tidak mampu menyedot air secara maksimal saat lingkungan tergenang banjir.

Ketua RW 06, Kelurahan Rangkapan Jaya Baru (RJB), Kecamatan Pancoran Mas, H. Sugeng Nartono mengaku sejak awal meragukan kemampuan mesin penyedot air di rumah pompa air yang dibangun pada tahun 2023 sebab kata dia dua unit mesin penyedot air 3 inch hanya mampu menyedot 70 meter kubik air dalam satu jam sementara debit air saat banjir mencapai 700 meter kubik dalam setiap detik.

“Gimana mau maksimal, mesin yang dipakai hanya berukuran tiga inch yang memiliki kapasitas daya sedot hanya 70 meter kubik dalam setiap jam sementara debit air saat banjir besar mencapai 700 meter kubik dalam setiap detik,” tegas Sugeng.

Dia mengatakan, untuk idealnya, rumah pompa air harus menggunakan dua unit mesin penyedot 20 Inc yang memiliki kapasitas daya sedot jauh lebih tinggi sehingga diharapkan dapat mengatasi banjir saat hujan lebat melanda.

“Mesin pompa tiga inch itu biasanya digunakan untuk nyedot air di empang, makanya wajar jika mesin itu tidak epektif saat digunakan untuk nyedot air banjir dilingkungan,” tandasnya.

Terkait adanya protes warga yang dituangkan dalam tulisan di spanduk yang ditempelkan didinding rumah pompa, Sugeng malah mengaku bersyukur dengan adanya protes di spanduk tersebut dan dia mengatakan sangat mendukung jika dilakukan audit penggunaan anggaran pembangunan rumah pompa air tersebut.

“Saya malah bersyukur warga bersikap kritis menuangkan kekecewaannya dengan tulisan di spanduk yang ditempelkan didinding rumah pompa, saya sangat setuju dan mendukung jika pihak berwenang melakukan investigasi dan penyelidikan terhadap proses pengadaan rumah pompa air agar lebih terang benderang jika ada pelanggaran atau unsur mark up dalam pengadaan proyek rumah pompa itu, saya siap bersaksi,” timpalnya. n Asti Ediawan

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here