39 Balita di Meruyung Terindikasi Stunting, Ini Langkah Yang Diambil

329
ilustrasi

Limo | jurnaldepok.id
Jajaran Kantor Kelurahan bersama stakeholder Kelurahan Meruyung, Kecamatan Limo terus berupaya menurunkan jumlah anak bawah lima tahun (Balita) yang terindikasi Stunting.

Berdasarkan data per bulan Agustus 2025, jumlah anak balita terindikasi stunting di wilayah Kelurahan Meruyung mencapai 39 anak atau masuk dalam kategori sedang.

Kasi Kemasyarakatan (Kemas) Kantor Kelurahan Meruyung, Kecamatan Limo, Yuniati Hamzah mengatakan meskipun jumlah anak terindikasi Stunting di wilayahnya tidak terlalu banyak, namun pihaknya akan terus berupaya untuk meminimalisir jumlah anak Stunting dengan melakukan pendampingan pemenuhan gizi bagi anak Stunting dan sosialisasi pencegahan Stunting kepada masyarakat.

“Untuk mewujudkan wilayah Zero Stunting memang tidak mudah tetapi bukan berarti sulit jika sosialisasi pencegahan berjalan secara optimal dan penanganan anak Stunting dilakukan dengan upaya maksimal,” ujar Yuniati usai menghadiri rapat koordinasi tim percepatan penurunan Stunting (TPPS) di aula Kantor Kelurahan Meruyung, Selasa (25/11/25).

Menanggapi hal ini, Lurah Meruyung, Kecamatan Limo, Asep Suherman meminta kepada para kader yang dilibatkan dalam penanganan dan penanggulangan Stunting untuk terus bekerja keras guna mengurangi jumlah anak terindikasi Stunting, namun dia juga mengimbau kepada para pengurus lingkungan agar pro aktif dalam upaya memerangi Stunting.

“Ya, upaya mengurangi jumlah Stunting tidak bisa hanya dilakukan oleh satu pihak saja tapi harus melibatkan banyak pihak mulai dari masyarakat dalam hal ini keluarga yang memiliki anak balita, para petugas TPPS dan pengurus lingkungan yang tentu memliki peran penting dalam menyukseskan pengurangan Stunting,” papar Asep Suherman.

Sementara Kepala Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Puskesmas Limo, dr. Toni Hermawan lebih menekankan pada upaya pencegahan Stunting yang menurutnya menjadi bagian paling penting dalam mewujudkan Zero Stunting.

“Untuk memulihkan anak dari Stunting itu bisa dilakukan dengan pemenuhan asupan gizi bagi sang anak, tapi yang paling sulit adalah menekan potensi Stunting karena setiao hari akan ada penambahan jumlah anak balita yang perlu di pantau agar tidak masuk dalam kategori Stunting,” urai Toni.

Dikatakannya, orang tua anak memiliki peran penting dalam upaya pemulihan maupun pencegahan Stunting terutama dalam hal pemenuhan standar gizi anak balita.

“Stunting muncul saat anak balita tidak mendapatkan asupan gizi yang memadai, kondisi ini dapat berdampak terhadap lambannya pertumbuhan tubuh sang anak,” pungkasnya. n Asti Ediawan

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here