
Pancoran Mas | jurnaldepok.id
Hujan yang mengguyur Kota Depok dan sekitarnya akhir pekan ini mengakibatkan belasan rumah rusak dan tanggul jebol.
Kabid Penanggulangan Bencana Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkar) Kota Depok, Denny Romulo mengatakan, ada belasan rumah yang mengalami kerusakan.
Di RT 08/03 Kampung Belimbing, Kelurahan Depok, Kecamatan Pancoran Mas, rumah warga hancur akibat luapan air sungai yang berada di belakang rumah.

Kerugian atas kejadian tersebut mencapai sekitar Rp 7 juta. Di lokasi lain, di Lapangan Bola relis 4 RT 09 RW 09 No. 61 Kelurahan Limo, Kecamatan Limo, atap rumah warga ada yang terbang.
“Total korban terdampak 26 orang namun tidak ada korban jiwa,” katanya, Minggu (19/10/2025).
Berdasarkan hasil koordinasi bersama beberapa pihak yaitu Pemadam Kebakaran UPT Cinere, Polsek Cinere, PLN, Perwakilan Kelurahan Limo, Babinsa Limo, pengurus Lingkungan dan warga sekitar.
Setelah melakukan peninjauan lokasi dan dikarnakan keterbatasan alat dan tenaga maka disepakati bahwa evakuasi dilaksanakan.
“Dikarenakan kondisi yang sulit di jangkau maka pelaksanaan evakuasi membutuhkan mobil crane PJU yang dimana mungkin bisa dibantu dinas terkait seperti unit Dishub agar proses evakuasi bisa berjalan maksimal,” ujarnya.
Dia mengajak warga Kota Depok diminta untuk waspada bencana hidrometeorologi. Kewaspadaan tinggi harus diterapkan, mengingat intensitas hujan lebat dan angin kencang telah menyebabkan kerusakan di beberapa wilayah di Kota Depok.
“Kami himbau bagi warga Depok untuk selalu waspada akan bencana hidrometeorologi. Seperti hujan disertai angin kencang,” katanya.
Sementara itu, tanggul di Kali Cabang Tengah (KCB) atau Margonda jebol hingga merusak tembok hingga menggenangi jalan Margonda, Kecamatan Beji
Salah satu karyawan bengkel, Dul menjelaskan bahwa posisi tanggul bengkel lebih rendah dibandingkan bangunan di tepi sungai.
Kondisi itu membuat air mudah meluap ke dalam bengkel, terlebih karena aliran sungai sering tersumbat sampah.
“Bengkel ini posisinya lebih rendah, terus di sungainya juga banyak sampah, jarang dibersihkan. Kalau dulu kan suka dikeruk,” ujarnya.
Dia menuturkan, air mulai masuk ke area bengkel sekitar pukul 19.00 WIB, endapan lumpur dan sampah membuat dasar sungai semakin dangkal dan memperparah luapan air. Luapan air sempat mencapai ketinggian sekitar belasan sentimeter dari permukaan lantai bengkel. Kondisi itu membuat sejumlah kendaraan tidak dapat melintas.
“Itu bisa sampai 1 meter. Karena kan kendaraan juga nggak bisa lewat. Tapi dulu nggak (banjir), semenjak ada pembangunan ini nih. Kayak saluran-saluran, kalau hujan deras sebentar aja sekarang bisa langsung banjir,” pungkasnya. n Aji Hendro








