
Oleh: KH Syamsul Yakin
Penulis Buku “Tafsir Surah Ar-Rahman”
Kalangan jin dari Nashibin, Yaman yang mendengar bacaan al-Qur’an sewaktu Nabi sedang melakukan shalat Subuh di lembah Nakhlah, kembali mereka memberi testimoni. Testimoni ini direkam di dalam al-Qur’an dengan sangat apik, “Sesungguhnya orang yang kurang akal dari kami dahulu selalu mengatakan (perkataan) yang melampaui batas terhadap Allah” (QS. al-Jinn/72: 4).
Untuk menafsirkan ayat di atas Syaikh Nawawi membaginya menjadi tiga penggal. Pertama, “Sesungguhnya”. Frasa ini, menurut Syaikh Nawawi berfungsi untuk menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya. Tentang duduk perkara yang sebenarnya ini, akan dijelaskan pada dua penggal berikutnya. Inilah gaya bahasa al-Qur’an yang penuh daya tarik dan memancing pembacanya ingin tahu.

Penggal kedua, “Orang yang kurang akal dari kami dahulu selalu mengatakan”. Kalimat ini adalah testimoni pertama kalangan jin. Bagi pengarang Tafsir Jalalain, yang dimaksud kata “safiihunaa” adalah makhluk bodoh yang ada pada barisan jin. Kebodohan dalam konteks ini, menurut al-Zuhaili, disertai dengan kerendahan akal dan kepandiran yang muncul dari kedunguan. Mereka itu, tulis Syaikh Nawawi, adalah iblis. Jadi, “safiihunaa”, bentuk pengakuan kalangan jin bahwa ada di antara mereka dahulu adalah makhluk yang kurang akal, bodoh, dungu, dan teledor. Kurang akal dan bodoh yang dimaksud adalah sikap, perkataan, dan perbuatan yang mengandung kesalahan dan kakafiran.
Artinya, testimoni kalangan jin yang mendengar bacaan al-Qur’an dan tertarik dengannya ini mengecam para jin musyrik sebelum mereka. Mereka menyebutnya “safiihunaa”. Frasa ini dalam gramatika Arab, tulis Ibnu Katsir, adalah sebagai isim jenis yang maknanya menyasar semua makhluk yang beranggapan bahwa Allah memiliki istri dan anak. Padahal Allah berfirman,
“Dia (Allah) Pencipta langit dan bumi. Bagaimana (mungkin) Dia mempunyai anak, padahal Dia tidak mempunyai istri? Dia menciptakan segala sesuatu; dan Dia mengetahui segala sesuatu” (QS. al-An’am/6: 101). Mereka yang mengatakan hal ini adalah jin musyrik yang bodoh atau iblis. Bisa juga jin kafir sebelum mereka masuk Islam.
Jin dan iblis adalah dua entitas yang berbeda. Jin adalah makhluk fisikal yang terbuat dari api, baik beriman maupun kafir. Sementara iblis adalah makhluk terkutuk karena tidak mau sujud kepada Adam saat Allah memerintahnya. “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?” Iblis menjawab, “Aku lebih baik daripadanya, Engkau ciptakan aku dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah” (QS. al-A’raf/7: 12). Di dalam ayat lainnya, “Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, “Sujudlah kamu kepada Adam,” maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia enggan dan takabur dan adalah dia termasuk golongan orang-orang yang kafir” (QS. al-Baqarah/2: 34).
Penggal ketiga, “(Perkataan) yang melampaui batas terhadap Allah”. Bagi al-Zuhaili, kata “syathatha” ini berarti melampaui batas dalam dusta, di luar batas keadilan dan kebenaran karena jin kafir atau iblis menyatakan bahwa Allah memiliki anak dan istri yang hal itu mustahil bagi Allah. Karena memang tidak ada sekutu bagi-Nya. Inilah kezaliman, kebatilan, kekufuran, dan kedustaan mereka yang terangkum dalam satu kata saja, yakni “syathatha”.
Di dalam al-Qur’an Allah berseru, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas” (QS. al-Maidah/5: 87). Bagi pengarang Tafsir Jalalain yang dimaksud melampaui batas pada ayat ini adalah tidak melanggar perintah. Pada ayat lain melampaui batas berarti melanggar apa saja yang Allah gariskan, “Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas” (QS. al-Baqarah/2: 190).
Ada dua entitas yang dapat disandingkan dalam paparan di atas. Pertama, jin sebagai anak keturunan iblis. Mereka ada yang beriman dan ada yang kufur. Mereka beriman karena mendengar bacaan al-Qur’an dan membuat testimoni bahwa ada di kalangan mereka yang bodoh dengan menisbatkan anak dan istri kepada Allah. Kedua, manusia sebagai keturunan Adam. Sebagaimana halnya jin, manusia ada yang beriman dan ada juga yang kafir. Atas keimanan jin dan manusia kelak mereka akan dibalas dengan pahala. Sementara atas kekafiran jin dan manusia kelak mereka akan dibalas dengan siksa.
Menurut Hasan al-Basri, seperti dikutip al-Zuhaili, mereka yang beriman dari kalangan manusia dan jin adalah waliyullah, sementara mereka yang kafir dari kalangan manusia dan jin adalah setan. Pandangan Hasan al-Basri ini senada dengan firman Allah, “Allah adalah wali bagi orang-orang yang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pemimpin-pemimpin mereka adalah thaghut” (QS. al-Baqarah/2: 257).*








