Khutbah Jumat: Allah Yang Mengendalikan Air

64
KH Syamsul Yakin

Oleh: KH. Syamsul Yakin
Penulis Buku “Tafsir Ar-Rahman”

Tentang Allah yang mengendalikan air, terkuak dalam firman Allah, “Katakanlah (Muhammad), “Terangkanlah kepadaku jika sumber air kamu menjadi kering, maka siapa yang akan memberimu air yang mengalir?” (QS. al-Muluk/67: 30). Syaikh Nawawi membagi ayat ini menjadi tiga penggal.

Pertama, “Katakanlah (Muhammad), “Terangkanlah kepadaku”. Maksudnya, “ceritakanlah kepadaku”. Ungkapan ini sama persis dengan ayat 28 surah al-Muluk. Makna lainnya, “kabarkanlah kepadaku”. Ungkapan ini juga merupakan tantangan Allah kepada kaum musyrik.

Kedua, “jika sumber air kamu menjadi kering”. Kering dalam konteks ini, menurut pengarang Tafsir Jalalain adalah air tersebut masuk jauh ke dalam bumi. Sumber air yanv dimaksud, bagi al-Zuhaili, tidak hanya sumur, tapi juga sungai-sungai. Lebih jauh juga termasuk salju dan hujan.

Tak pelak, saking keringnya air yang ditelan bumi tidak dapat dijangkau dengan timba. Termasuk, tulis Ibnu Katsir, tidak dapat digali dengan cangkul dan alat lain yang terbuat dari besi, tidak juga dapat direngkuh dengan tangan-tangan yang kuat.

Dalam pandangan Ibnu Katsir, kata “ghaura” artinya kering, sebagai lawan dari menyembur. Lebih luas, “ghaura”, menurut Sayyid Quthb adalah hilang ditelan bumi. Sedangkan “ma’iin” artinya tidak hanya mengalir, tapi juga melimpah dan memancar. Semua makna ini menunjukkan bahwa kaum musyrik terhalang mendapatkan nikmat air. Padahal air sumber kehidupan.

Ketiga, “maka siapa yang akan memberimu air yang mengalir?”. Jelas ini pertanyaan retoris. Apalagi ayat ini nyatanya memang tidak memberi alternatif jawaban. Karena jawabannya tak dapat dipungkiri, yakni “Allah”. Dengan kata lain, Allah yang memunculkan air yang mudah diambil dan dapat diindera oleh mata dan dialirkan kemana-mana.

Pada penggal ketiga ini, dapat dipahami bahwa tidak ada yang dapat menyemburkan air dari perut bumi selain Allah. Allah berkuasa mengalirkannya ke segala penjuru sehingga dapat dinikmati oleh manusia, hewan, dan tetumbuhan. Allah juga berkuasa untuk menghentikannya, kapan saja Allah mau melakukannya, tanpa harus menunggu musim kemarau.

Ayat ini memaksa kaum musyrik untuk mengakui bahwa sumber air itu berasal dari Allah. Jadi ketika ditanya, “maka siapa yang akan memberimu air yang mengalir?”, lalu mereka menjawab “Allah”. Pada saat ini mereka dikonfirmasi dengan pertanyaan selanjutnya, “mengaku kamu menjadikan yang tak berkuasa mengalirkan air sebagai tuhan yang kamu sembah?”. Artinya kemusyrikan mereka tidak memiliki basis argumen yang kuat.

Dengan demikian, patut dipertanyakan kepada kaum musyrik, “mengapa kamu tidak meyakini adanya hari berbangkit?” Inilah inkonsistensi mereka. Mereka meyakini bahwa air dikendalikan oleh Allah, sementara mereka tidak meyakini bahwa Allah dapat membangkitkan manusia pada hari kiamat. Namun retorika Allah ini tidak membuat kaum musyrik mengubah keyakinan mereka. Karena bagi mereka sama saja diberi peringatan atau tidak diberi peringatan, tetap tidak beriman.

Di dalam ayat lain, Allah juga bertanya secara retoris yang nyaris sama dengan ayat di atas, “Maka pernahkah kamu memperhatikan air yang kamu minum? Apakah kamu yang menurunkannya dari awan ataukah Kami yang menurunkan?” (QS. al-Waqiah/56: 68-69). Lagi-lagi pertanyaan ini wajib dijawab “Allah yang menurunkan hujan”. Namun kaum musyrik bergeming. Mereka tidak mau mengakui fakta.

Bagi kaum mukmin sendiri, ayat ini mempertegas bahwa di dalam mendapatkan sumber kehidupan semisal air, wajiblah menggantungkannya kepada Allah. Sebab air itu diciptakan dari tidak ada menjadi ada (creatio ex nihilo) oleh Allah. Buktinya, hingga hari ini manusia belum dapat menciptakan air, kendati hanya setetes. Manusia hanya mampu memodifikasi air menjadi berbagai jenis minuman.

Jadi air sebagai salah satu unsur penting sengaja ditampilkan di dalam ayat ini untuk memberi pelajaran kepada manusia bahwa manusia tidak berdaya hidup di muka bumi tanpa air yang Allah semburkan dari perut bumi. Namun tidak semua manusia dapat memahaminya. Bahkan kebanyakan mereka mengingkari karunia Allah.

Al-Zuhaili menuliskan kisah orang-orang sombong tatkala ayat ini dibacakan kepada mereka, “Katakanlah (Muhammad), “Terangkanlah kepadaku jika sumber air kamu menjadi kering?” Mereka menjawab. “Kapak dan cangkul akan mendatangkan air untuk kami”. Padahal kedua alat itu sangat terbatas untuk menggali sumber air yang hilang di perut bumi.

Para ahli tafsir, seperti pengarang Tafsir Jalalain dan Syaikh Nawawi menuturkan bahwa ketika orang membaca ayat ini lalu sampai pada kata “ma’iin”, maka disunahkan untuk mengucapkan “Allahu Rabbul ‘Aalamin” atau “Allah Tuhan semesta alam”. Inilah bimbingan Nabi kepada umatnya untuk mengimani Allah di dalam hati, dan merealisasikannya pada lisan dan perbuatan.*

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here