Khutbah Jumat: Tiga Tanda Orang Malas

225
KH Syamsul Yakin

Oleh: KH Syamsul Yakin
Pengasuh Pondok Pesantren Darul Akhyar Kota Depok

Ada tiga tanda orang malas dalam pandangan Wahab bin Munabbih. Hal itu terkuak dalam Hilyatul Aulia wa Thabaqatul Ashfiya karya Abu Nuaim al-Ashfahani.

Tanda orang malas yang pertama adalah dia kerap terlambat dan karena itu dia selalu tergesa-gesa. Jadi akibat negatif dari rasa malas adalah lambat. Orang yang lambat pasti akan ketinggalan peluang, baik berupa pekerjaan maupun sekadar harapan. Untuk mengejar ketertinggalan, mau tidak mau dia harus menyusulnya dengan tergesa-gesa.

Sementara tergesa-gesa adalah perbuatan setan. Nabi informasikan, “Sesungguhnya sikap tergesa-gesa itu dari setan” (HR. Turmudzi). Namun bagi Abu Nuaim ada lima hal yang boleh dilakukan dengan tergesa-gesa. Pertama, memuliakan tamu. Kedua, mengurus jenazah. Ketiga, menikahkan anak gadis. Keempat, membayar utang. Kelima, bertobat kepada Allah.

Di dalam al-Qur’an sendiri minimal ada tiga hal yang harus disegerakan. Pertama, bersedekah harta di kala lapang maupun sempit, menahan marah, dan memaafkan kesalahan orang. Allah menegaskan, “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang” (QS. Ali Imran/3: 133-134).

Tanda orang malas yang kedua adalah tergesa-gesa hingga akhirnya kehilangan kesempatan atau peluang. Di sinilah pentingnya manajemen waktu. Ungkapan terkenal sering kita dengar, “Waktu laksana pedang. Bila kamu tidak memotongnya, maka kamu yang akan dipotong waktu”.

Abu Laits dalam Tanbihul Ghafilin mengutip hadits Nabi yang bersumber dari Maimun bin Mahran, “Pergunakanlah lima perkara sebelum datang lima perkara. Pertama, masa mudamu sebelum masa tuamu. Kedua, sehatmu sebelum sakitmu. Ketiga, waktu luangmu sebelum waktu sempitmu. Keempat, kayamu sebelum miskinmu. Kelima, hidupmu sebelum matimu”.

Tanda orang malas yang ketiga adalah kehilangan kesempatan sampai akhirnya berbuat dosa. Seorang suami awalnya malas bekerja, akhirnya dia kehilangan peluang, namun karena tuntutan keluarga, tak ada pilihan akhirnya dia mencuri. Jadi malas berujung pada melakukan perbuatan dosa. Begitu juga bagi istri yang malas berujung keributan di dalam rumah tangga. Pelajar yang malas berujung pada kegagalan, lalu memanipulasi nilai agar lulus ujian.

Dari sejumlah informasi di atas dapat diungkap hal ihwal tentang malas. Misalnya, pertama, menyia-nyiakan potensi yang Allah anugerahkan. Kedua, orang malas biasanya tidak sanggup berkompetisi dan karena itu dia mudah menyerah. Ketiga, secara psikologis, pemalas bekerja setengah hati, ceroboh, dan tidak berorientasi pada hasil. Dari sini dapat dipahami bahwa merawat malas sama seperti menanam dosa.

Solusinya, sedapat mungkin bangun pagi, tidak menunda-nunda pekerjaan, tidak terlalu banyak istirahat, banyak bicara, dan bersenda-gurau. Di samping itu, Nabi mengajari agar para pemalas membaca doa ini, “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kegalauan dan kesedihan, kelemahan dan kemalasan, kepengecutan dan kekikiran, tindihan hutang dan penindasan orang” (HR. Bukhari).*

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here