Sebabkan Dua Warga Tewas, Wali Kota Depok Stop Pembangunan Perumahan di Pancoran Mas

840
Wali Kota Depok bersama warga saat meninjau pencarian korban tenggelam

Pancoran | jurnaldepok.id
Lantaran menyebabkan dua korban meninggal dunia, pembangunan perumahan cluster di Jalan Tawakal RT 01/17 Kelurahan Pancoran Mas, Kecamatan Pancoran Mas, distop.

Wali Kota Depok, Mohammad Idris mengatakan itu saat meninjau lokasi kejadian dua warga tewas karena terbawa arus banjir di gorong-gorong yang dibangun salah satu perumahan cluster.

Dua korban itu terbawa arus masuk ke dalam gorong-gorong, kemudian tembus ke rawa yang ada di sekitar lokasi saat Kota Depok diguyur hujan.

Dia menambahkan, gorong-gorong yang dibangun di bawah perumahan tak berizin ini akan menjadi evaluasi perbaikan Pemerintah Kota Depok ke depannya.

“Ya, kalau izin awal dari RT-RW, pengakuan RT-RW nya tidak tahu-menahu, dan ini sudah kami cek memang tidak ada izin (perumahan), baik yang komplek lama, mungkin sistemnya satu per satu. Terkait dengan perda nya akan dilihat dengan yang ini (perumahan yang baru) dipastikan tidak ada izin, karena RT-nya bilang tidak ada,” ujarnya, Rabu (26/04/23).

Idris juga mengatakan, warga setempat pernah diajak musyawarah hanya tidak selesai, karena memang ini kawasan ruang resapan air atau rawa.

Dari itu, Idris meminta perangkat daerah terkait untuk menghentikan pembangunan perumahan yang berada di atas rawa tersebut.

“Kami minta dipasang garis agar tidak boleh dilanjutkan lagi (perumahan yang baru di rawa). Sebenarnya lokasi tersebut resapan air, rawa-rawa jadi perumahan. Jadi ini tinggal punya siapa, yang jelas bukan punya pemerintah. Maka, itu yang menjadi evaluasi, tempat-tempat seperti ini resapan air kalau bisa didahulukan kepemilikan oleh pemerintah, jadi tidak milik pribadi atau swasta,” tegasnya.

Pada kesempatan itu, Idris juga memberikan santunan kepada keluarga korban. Menurutnya, musibah ini menjadi catatan untuk pembangunan berkelanjutan di Kota Depok.

“Sebuah perjalanan hikmah dengan adanya musibah yang mudah-mudahan jadi sebuah catatan kami untuk pembangunan berkelanjutan, yang bisa menjadi salah satu prioritas, kawasan kumuhnya dari sisi rumkim, kawasan tertib administrasi dari sisi perizinan dan juga PUPR,” katanya.

Sementara itu Ketua RT setempat, Agus menambahkan, warga tidak pernah diajak bekomunikasi saat proses pembangunan.

“Dulu pernah ada pertemuan atau musyawarah tapi pemiliknya malah keluar sebelum ada kesepakatan bersama warga kami,” tandasnya.

Di lokasi sama, keluarga korban, Ruslan yang kehilangan anak dan cucunya menambahkan, saat itu dia berjalan kaki menerjang derasnya arus banjir untuk mengecek kondisi rumahnya yang juga banjir.

Ia sudah memperingatkan anaknya NM agar tak ikut mengecek rumah. Namun NM tetap memaksa ikut hingga akhirnya ikut menemani.

Ruslan mengatakan, ia menerjang derasnya banjir setinggi kurang lebih 60 cm untuk melewati banjir tersebut, ia pun memegang tangan anak dan cucunya.

“Tiba-tiba air langsung datang ke saya itu posisinya sedang hujan deras, langsung keseret saya,” tuturnya.

Derasnya air mengakibatkan anak dan cucunya terseret arus hingga masuk ke dalam gorong-gorong.

“Sempat saya pegang, tapi terlepas, airnya kaya ombak. Pas lepas tangannya saya sempat jambak rambutnya tapi gak kepegang,” pungkasnya. n Aji Hendro

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here