Kemenag Ungkap Nilai dan Sikap Toleransi di Depok Makin Meningkat

7
Para tokoh lintas agama foto bersama dalam acara Sarasehan Depok Kota Inklusif.

Pancoran Mas | jurnaldepok.id
Sikap toleransi di Kota Depok saat ini meningkat. Sebelumnya, Depok dijuluki kota yang intoleran, namun kini sudah menjadi kota yang toleransinya meningkat.

Kepala Sub Bagian Tata Usaha Kantor Kementrian Agama Kota Depok, Hasan Basri mengatakan itu saat menghadiri Sarasehan Depok Kota Inklusif bertema “Menguatkan Kerukunan Antarumat Beragama dalam Bingkai Kebersamaan Generasi Muda” di Gedung MUI Jalan Nusantara, Kelurahan Depokjaya, Pancoran Mas.

Hasan Basri menyambut baik sarasehan tersebut. Dalam acara tersebut, bukan hanya para ulama dan kiai yang hadir, tetapi juga pemuda lintas agama, ormas, dan tokoh masyarakat duduk bersama dalam satu forum.

Kegiatan ini menjadi ruang temu yang telah lama dinantikan untuk merawat kerukunan di kota yang dikenal dengan keberagamannya. Menurutnya, sosialisasi kerukunan tidak boleh berhenti di kalangan ulama dan tokoh masyarakat saja, tetapi juga menyentuh generasi muda.

“Kota Depok yang beraneka ragam suku, budaya, agama dan lain sebagainya ini tentu perlu terus disosialisasikan ke masyarakat, bukan saja di kalangan para ulama, para kyai, tokoh masyarakat, tapi juga di kalangan para pemuda,” katanya, Rabu (14/10/2026).

Ia menilai, kegiatan ini sangat penting dan strategis, terutama di tengah capaian positif Kota Depok yang kini citranya terus membaik.

“Kita tahu bahwa Kota Depok yang saat ini sudah meningkat dari kota yang intoleran menjadi kota yang toleransinya meningkat. Tentu ini menjadi sesuatu hal yang sangat penting untuk dilaksanakan,” jelasnya.

Karena itu, ia menggaris bawahi peran pemuda sebagai ujung tombak kerukunan di masa depan. Di tangan pemudalah, pesan toleransi akan hidup dan menyebar, termasuk di dunia digital yang lekat dengan mereka.

“Mudah-mudahan ini ke depan bisa terus dipahami oleh pemuda, sehingga bagaimana mereka bisa menyatukan elemen masyarakat terutama di kalangan gadget atau di kalangan para pemuda,” tuturnya.

Sarasehan ini juga menjadi wadah yang inklusif. Di dalam aula tersebut, terlihat pemuda Kristen, Pemuda Katolik, Pemuda Hindu, GP Ansor, Pemuda Islam, dan berbagai organisasi kepemudaan lainnya berbaur dan berdiskusi.

Hasan berharap, melalui forum ini organisasi kepemudaan lintas agama tidak hanya saling mengenal, tetapi mampu menjadi pelopor kerukunan. Anak muda harus menjadi pelopor, menjadi garda terdepan dalam mewujudkan kerukunan. Menurutnya, mereka masih banyak yang belum memahami, tapi dengan adanya kegiatan yang sasarannya ke anak muda ini.

“Bagaimana mereka bisa menyatukan organisasi-organisasi kepemudaan yang ada, bukan saja organisasi umum tapi juga organisasi keagamaan. Saya yakin bisa terwujud,” ucapnya.

Di lokasi sama, Direktur Pusat Inkubasi Bisnis Syariah (PINBAS) MUI Kota Depok H. Acep Azhari menjelaskan, fokus utama kegiatan ini adalah generasi muda.

Hal ini didasari oleh tren riset indikator yang menunjukkan adanya penurunan tingkat loyalitas terhadap keagamaan di kalangan anak muda, di mana mereka cenderung lebih tertarik pada pergaulan gadget, seni, musik, serta olahraga.

“Kita jangan sampai abai terhadap tren dari anak muda sekarang. Kita tetap harus memiliki kepedulian itu. Itulah kenapa sarasehan Depok Kota Inklusif ini dilaksanakan,” katanya.

Sementara itu Wakil Wali Kota Depok, Chandra Hermansyah turut menyampaikan dukungannya dan menegaskan bahwa kerukunan merupakan kondisi yang dinamis dan harus terus didampingi dengan sifat toleransi. n Aji Hendro

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here