Khutbah Jumat: Kesamaan Jin dan Manusia

30
KH Syamsul Yakin

Oleh: KH. Syamsul Yakin
Penulis Buku “Tafsir Surah Ar-Rahman”

Perihal kesamaan jin dan manusia terungkap dalam ayat, “Sesungguhnya mereka (jin) mengira sebagaimana kamu (orang musyrik Mekah) mengira bahwa Allah tidak akan membangkitkan kembali siapa pun (pada hari Kiamat)” (QS. al-Jinn/72: 7). Yang dimaksud dengan kesamaan dalam bahasan ini adalah sifat yang sama atau serupa antara jin dan manusia. Misalnya, pada ayat ayat yang telah lewat terungkap bahwa jin musyrik dan manusia zalim sama-sama mengatakan bahwa Allah mempunyai anak dan istri.

Sementara pada ayat ini kesamaan antara jin dan manusia adalah mereka mengira bahw tidak ada satu orang pun kelak yang akan dibangkitkan pada hari kiamat setelah bumi dan segala isinya hancur lebar. Inilah keyakinan kaum Kafir Mekah yang tidak meyakini adanya kehidupan setelah kematian. Namun kendati mereka tidak keyakininya, mereka seperti terusik saat Nabi menyampaikan hal itu di tengah-tengah kaum pagan Arab. Ujungnya Nabi dimusuhi. Para sahabat diintimidasi. Nabi dan para sabahat diboikot secara sosial dan diembargo secara ekonomi. Bukankah sebelumnya, mereka menggelari Nabi sebagai al-Amin atau yang terpercaya?

Kalau ditelisik lebih jauh, orang musyrik Mekah adalah kaum yang pernah meminta perlindungan kepada sekelompok jin. Artinya kesamaan kedua entitas ini adalah sama-sama musyrik dan tidak beriman kepada Allah. Baik manusia dan jin sama-sama durhaka kepada Allah. Secara algoritma, urutan langkah logis dan sistematis selanjutnya mereka sama-sama berada dalam kesesatan yang nyata. Sebagai konsekuensinya, mereka akan menempati neraka yang panas membara. Dosa syirik adalah dosa yang tidak terampuni. Langkah algortima selanjutnya adalah mereka akan berada selama-lamanya di neraka.

.Padahal sangat etis dan logis, apabila Allah menghidupkan manusia kembali setelah kematian. Dipandang etis karena Allah akan menjadi Hakim yang adil yang menempatkan orang yang berat timbangan kebaikannya di surga dan menempatkan orang yang berat timbangan keburukannya di neraka. Selain itu, dipandang logis apabila manusia dibangkitkan untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Bukankah manusia dilengkapi sepasang mata dan lisan dan sepasang bibir untuk membedakan perbuatan baik dan perbuatan buruk. Terlebih manusia dikaruniai akal untuk memilih dua jalan: iman atau kufur.

Pengingkaran hari berbangkit dan pembalasan, secara yurisprudensi, bertentangan dengan kalam mulia Allah. Misalnya, “Dan sungguh, (hari) kiamat itu pasti datang, tidak ada keraguan padanya; dan sungguh, Allah akan membangkitkan siapa pun yang di dalam kubur” (QS. al-Hajj/22: 7). Tentang hari pembalasan, Allah mewanti-wanti, “Barangsiapa membawa amal yang baik, maka dia akan mendapat (balasan) sepuluh kali lipat (dari amal itu), dan barangsiapa yang membawa (amal) yang buruk, maka dia tidak diberi balasan melainkan seimbang dengan keburukannya, sedang mereka sedikit pun tidak dizalimi” (QS. al-An’am/6: 160).

Ayat ini sejatinya memberi informasi bahwa manusia dan jin melakukan tindakan malampaui batas jilid kedua. Inilah kesyirikan sebagai kezaliman yang besar. Dengan mengambil fragmen keluarga Luqman, Allah berfirman, “Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu dia memberi pelajaran kepadanya, “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar” (QS. Luqman/31: 13). Dalam konteks ini yang dimaksud dengan kezaliman adalah meletakkan Allah bukan pada tempanya, padahal Allah adalah Zat Yang Maha Membangkitkan.

Tampaknya, Ibnu Katsir berbeda.dengan mayoritas ulama ahli tafsir seperti pengarang Tafsir Jalalain dan yang lainnya. Bagi Ibnu Katsir makna kata “yabatsa” bukan membangkitkan kembali orang yang telah mati pada hari kebangkitan, namun Allah tidak akan mengutus seorang rasulpun setelah itu. Pendapat ini dikemukakan oleh Ibnu Katsir berdasar pendapat al-Kalabi dan Ibnu Jarir yang dikutip di dalam tafsirnya. Pendapat serupa dikemukakan juga oleh Syaikh Nawawi di dalam tafsirnya.

Inilah berbagai kesamaan sifat jin manusia yang sama-sama mengatakan bahwa Allah memiliki anak dan istri. Mereka sama-sama mengatakan bahwa tidak ada hari berbangkit. Jelas pendapat mereka sama-sama sesat dan ujung hidup mereka sama-sama akan menjadi punghuni neraka dimana mereka kekal di dalamnya. “Sesungguhnya orang-orang yang kufur dari golongan Ahlul Kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) neraka jahanam. Mereka kekal di dalamnya. Mereka itulah seburuk-buruk makhluk” (QS. al-Bayyinah/98: 6). Menurut pengarang Tafsir Jalalain ayat ini merupakan informasi yang bersifat pasti mengenai tempat kembali mereka nanti di akhirat.*

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here