
Laporan: Asti Ediawan
Kepiawaian dua sosok Srikandi Depok yakni Anggota DPRD Kota Depok, Hj. Qonita Lutfiyah dan Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB), Kota Depok, Nessi Annisa Handari dalam melakoni permainan Congklak salah satu jenis permainan tradisionil anak mewarnai kesemarakan festival Duren Seribu yang di selenggarakan oleh jajaran Kantor Kelurahan dan Stakeholder Kelurahan Duren Seribu.
Pemandangan yang tak biasa itu terjadi usai keduanya melakukan launching bazar UMKM di event Festival Duren Seribu pada Minggu (07/09/25) dilapangan Pusaka Kelurahan Duren Seribu, Kecamatan Bojongsari.
Kepala DP3AP2KB Kota Depok, Nessi Annisa Handari mengatakan sangat mengapresiasi penampilan berbagai jenis permainan anak tempo dulu pada festival Duren Seribu sebab kata dia selain dapat meningkatkan minat anak terhadap budaya tradisional, penampilan permainan tradisional anak dapat memicu kreatifitas dan inovasi sang anak sehingga anak tidak hanya tergantung pada jenis permainan yang ada diaplikasi gadget.

“Sebagaimana kita ketahui bersama saat ini anak anak kita lebih cenderung untuk menyukai jenis permainan yang ada di aplikasi perangkat lunak seperti Hape hal ini terjadi lantaran minimnya pengetahuan mereka tentang jenis permainan tradisional yang sesungguhnya jauh lebih atraktif, kreatif dan lebih sehat, makanya kami sangat mengapresiasi inisiatif jajaran kepanitiaan festival Duren Seribu yang memfasilitasi anak anak dengan permainan tradisional anak,” urai Nessi Anissa Handari.
Sementara Anggota DPRD Kota Depok dapil Sawangan – Bojongsari – Cipayung (SABOCI), Hj. Qonita Lutfiyah mengaku senang berkesempatan menjajal kembali hobi masa kecilnya bermain congklak.
“Congklak merupakan permainan tradisionil anak sebelum era modernisasi sekarang, saat itu permainan congklak sangat digemari oleh hampir seluruh anak khususnya anak perempuan di Indonesia, permainan anak yang berasal dari timur tengah ini sarat dengan filosofi diantaranya mengajarkan nilai nilai seperti manajemen sumber daya, menabung, berbagi dengan adil, bertanggung jawab dan berstrategi untuk masa depan, itu diantara filosofi yang terkandung dalam permainan tradisional anak, saya sangat menikmati permainan Congklak,” papar sang Putri pimpinan Pondok Pesantren Daarul Rahman, KH. Syukron Ma’mun.
Kepiawaian dua sosok Srikandi Depok dalam bermain Congklak menuai decak kagum para pengunjung festival Duren Seribu.
Ketua TP PKK Kelurahan Duren Seribu, Kecamatan Bojongsari, Selvia Rasman mengaku tak menyangka jika kedua tokoh kaum hawa Kota Depok ternyata sangat mahir bermain Congklak.
“Waww….keren kirain Bu Kadis dan Bu Dewan enggak bisa main Congklak ternyata beliau berdua sangat pandai mudah mudahan ini menjadi hiburan sekaligus edukasi dan motivasi bagi warga terutama kalangan anak anak agar menggemari permainan tradisionil anak,” harap Selvia Rasman. n Asti Ediawan








