
Sawangan | jurnaldepok.id
Meski baru berusia empat tahun, namun kiprah lembaga pendidikan Islam Pondok Pesantren Ittihaadussybbaan dalam upaya mencetak generasi cerdas dan berakhlak mulia sudah tidak diragukan lagi, hal ini dapat dilihat dari terus meningkatnya minat masyarakat untuk memasukkan putra putrinya menimba ilmu agama di Ponpes yang dinakhodai oleh KH. Ahmad Fakhruddin Murodih.
Saat dikonfirmasi terkait progres perkembangan kegiatan pembelajaran di Ponpes Ittihaadussyubbaan, Kyai Fakhruddin mengatakan saat ini pihaknya terus berupaya meningkatkan kualitas penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar dilingkup Pondok Pesantren dengan menghadirkan guru pembimbing yang memiliki kompetensi mumpuni.
Dikisahkannya, sebelum menjadi Pondok Pesantren, Ittihaadussyubbaan merupakan Majelis Taklim yang sudah eksis selama lebih dari 15 tahun kemudian oleh guru Abuya Habib Abu Bakar Bin Hasan Al Athos Azzabidi kami di perintahkan untuk meningkatkan status Ittihaadussyubbaan menjadi Pondok Pesantren dan pada tanggal 11 Maret 2021 dilaksanakan peletakan batu pertama pembangunan Pondok Pesantren Ittihaadussyubbaan.

“Kami sangat bersyukur meskipun usia Pondok Pesantren masih seumur jagung namun eksistensi kami dalam mengelola pendidikan berbasis Agama Islam mendapat perhatian dari masyarakat, Alhamdulillah saat ini kami telah memiliki 87 santri / santriwati yang semuanya wajib tinggal di asrama alias mondok karena kami tidak melayani siswa pulang pergi,” ungkap Fakhruddin.
Lebih lanjut dikatakannya, mmeski mengembangkan kurikulum berbasis pesantren dengan sistem pengajian klasikal, pihaknya juga menerapkan pendidikan formal berbasis sekolah umum dengan mengikuti kurikulum nasional plus kegiatan ekstra kurikuler kepada Santri seperti Ratiban, Yasinan, Maulidan, Latihan Hadroh, Marawis, Muhadhoroh, Muhadasah, Seni Baca Al-Qur’an, Kepramukaan, Pencak Silat, Seni Keterampilan Drumband, dan sejumlah kegiatan ekstra kurikuler lainnya.
Selain itu, Ponpes Ittihaadussyubbaan lanjutnya memiliki sejumlah program pembelajaran unggulan yakni Santri Kecil wajib Tartil (Fashohah didalam Makrhorijul Huruf, sifat sifat huruf, tajwid, dan wakof) didalam membaca Alqur’an dengan metode Yanbu’a Kudus dan bagi Santri Santri yang sudah matang telah mengharamkan metode Yanbu’a dilanjutkan dengan program Tahfudz dan Santri juga wajib belajar Nahwu Shorof sebagai dasar untuk bisa membaca kitab kuning dan kitab kitab lainnya seperti kitab Fiqih, Aqidah Akhlak dan lainnya. kolaborasi kurikulum
“Kami menerapkan kolaborasi antara kurikulum berbasis pesantren dengan kurikulum sekolah umum dengan harapan dapat mewujudkan harapan semua anak didik menjadi cerdas dan berakhlak mulia,” imbuhnya.
Terpisah, salah satu pengasuh Pondok Pesantren Ittihaadussyubbaan, Ustadzah Hj. Tuti Alawiyah mengatakan selain fokus pada pembelajaran kurikulum berbasis pesantren dan kurikulum sekolah, pihaknya juga sangat memperhatikan kondisi kesehatan para santri.
“Ya, kami sangat memperhatikan masalah kesehatan para santri dan santriwati yang mondok di Pesantren kami, mulai dari masalah menu sehari hari sampai kebutuhan dasar lainnya bahkan untuk bidang kesehatan tubuh kami tak segan segan mendatangkan ahli kesehatan guna memberikan wawasan kepada santri agar bisa secara mandiri menjaga kesehatan diri sendiri,” pungkas Umi Tuti sapaan akrab Ustadzah Hj. Tuti Alawiyah. n Asti Ediawan








