Pedagang dan LPM Mencak-mencak, Proyek Drainase Meruyung Dinilai Lambat!

178
Ketua LPM Meruyung (pakai topi) saat menegur pekerja saluran air yang dinilai lambat.

Limo | jurnaldepok.id
Puluhan pemilik warung dan toko di sejajar ruas Jalan Raya Meruyung memprotes lambannya pengerjaan saluran air (Drainase) yang berdampak terhadap menurunnya omzet penjualan.

Protes para pemilik warung dan toko disampaikan kepada Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM), Kelurahan Meruyung, Kecamatan Limo, Supian Derry yang kemudian langsung melakukan sidak kelokasi untuk menemui kontraktor pelaksana guna menyampaikan keluhan warga terhadap pelaksanaan pekerjaan.

“Saya sudah menerima lebih dari sepuluh pengaduan dari para pemilik tempat usaha di pinggir jalan raya Meruyung yang memprotes lambatnya pekerjaan pembuatan saluran air (Drainase) yang mengakibatkan omzet dagang mereka anjlok lantaran halaman depan warung atau toko tak bisa digunakan sebagai tempat parkir,” papar Derry kepada Jurnal Depok, kemarin.

Dikatakan Derry, setelah menerima banyak keluhan dari masyarakat, dirinya langsung melakukan peninjauan lokasi proyek drainase sepanjang 560 meter yang membentang dari perbatasan wilayah Meruyung dengan Kelurahan Rangkapan Jaya Baru (RJB) dan perbatasan Meruyung dengan Kelurahan Limo, namun pada saat itu dirinya hanya menemukan 3 orang yang sedang mengerjakan proyek tersebut.

“Ini bukan masalah tenggang waktu pengerjaan tapi lebih kepada teknis pelaksanaan yang tidak memperhatikan dampak terhadap keberlangsungan aktivitas disekitar lokasi proyek, seharusnya pemborong memperhitungkan hal itu karena di seputar proyek terdapat banyak warung dan toko yang tentunya sangat membutuhkan space parkiran untuk para konsumen,” imbuhnya.

Dikatakannya, pembangunan saluran air (Drainase) sudah dimulai hampir sebulan lamanya namun hingga saat ini sebagian besar permukaan drainase masih menganga dan belum di beri tutup U ditch sehingga kendaraan konsumen tidak bisa menjangkau warung dan toko.

Tak hanya itu, lambatnya penyelesaian saluran air (Drainase) juga memicu terjadi bahaya bagi para pengguna jalan khususnya pengendara sepeda motor.

“Saya mendapat laporan bahwa sudah beberapa sepeda motor yang terperosok kedalam drainase yang menganga , belum lagi keluhan para orang tua murid yang mengaku sangat repot saat mengantar jemput anaknya ke sekolah lantaran dan keluhan para guru karena khawatir lubang yang menganga didepan sekolah akan membahayakan siswa saat melintas didepan sekolah ini baru sebagian dari keluhan masyarakat terhadap pekerjaan galian drainase yang tidak profesional,” tandasnya.

Terkait hal ini, Derry meminta kepada Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) selaku instansi pengadaan proyek untuk menegur kontraktor pembangunan saluran air (Drainase) agar segera membenahi pekerjaan dengan menambah jumlah pekerja agar proyek senilai Rp 900 juta itu guna mempercepat proses pengerjaan.

“Dinas harus mencari tahu apa penyebabnya sehingga pekerjaan proyek itu sangat lambat, karena saya mendapat kabar bahwa pihak kontraktor lalai membayar upah pekerja sehingga membuat para pekerja mogok kerja dan berdampak pada terbengkalainya pekerjaan,” tegas Supian Derry.

Selain memprotes lambanya kinerja kontraktor pelaksana proyek, Derry juga mengkritisi penggunaan material penutup saluran yang menurutnya sangat tidak layak karena mengguna besi berukuran sangat kecil.

“Ada beberapa titik saluran yang sudah mulai ditutup, sayangnya penutup bidang saluran hanya dilapisi besi kecil dan itu akan sangat cepat rusak tapi dan amblas ketika terlindas kendaraan roda empat, selain itu kualitas hasil kerja sangat buruk banyak besi yang nongol dipermukaan sehingga sangat membahayakan pengguna jalan, mohon kepada pengawas dari Dinas untuk segera mengecek penggunaan bahan material oleh kontraktor dan jika tidak sesuai spek maka harus dibongkar lagi dan diganti dengan jenis bahan material sesuai bestek,” tegas Derry.

Tak hanya Ketua LPM yang menerima banyak keluhan dari warga dan pelaku usaha, Ahmad Amarullah salah satu guru Madrasah Ibtidaiyah (MI) Hayatul Islamiyah Meruyung juga mengaku menerima banyak keluhan dari warga sekolah lantaran lokasi sekitar proyek didepan sekolah menjadi tempat genangan air sehingga mengganggu kenyamanan aktivitas di seputar lingkungan sekolah.

“Ini bekas tempat galian saluran air kok jadi kubangan air bisa jadi sarang nyamuk sekolah kami,” tutup AA, sapaan akrab Ahmad Amarullah. n Asti Ediawan

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here