Khutbah Jumat: Tiga Tanda Orang Zalim

789
KH Syamsul Yakin

Oleh: KH Syamsul Yakin
Pengasuh Ponpes
Darul Akhyar Depok

Seorang hamba tidak pantas berlaku zalim, baik kepada Allah, Nabi, orang lain bahkan diri sendiri. Di dalam al-Qur’an bergelantungan ayat tentang bahwa Allah tidak berbuat zalim

Misalnya, “Dan Allah tidak menghendaki berbuat kezaliman terhadap hamba-hamba-Nya” (QS. al-Mukmin/40: 31). “Dan sekali-kali tidaklah Tuhanmu menzalimi hamba-hamba-Nya” (QS. Fushshilat/41: 46). “Sesungguhnya Allah tidak berbuat zalim kepada manusia sedikit pun” (QS. Yunus/10: 44). “Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah” (QS. al-Nisaa/4: 40).

Dalam Arbain Nawawi, Imam Nawawi mengutip sebuah hadits qudsi yang berbunyi, “Wahai hamba-Ku, sesungguhnya Aku mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku menjadikan kezaliman itu haram di antara kalian, maka janganlah kalian saling menzalimi”. Pertanyaannya, seperti apakah tanda orang zalim itu?

Abu Nuaim yang di dunia Islam digelari sebagai imam, allamah, al-tsiqah, dan syaikhul Islam menghabiskan waktu 90 tahun hidupnya untuk belajar, mengajar, dan menulis. Dalam karya terbaiknya, Hilyatul Aulia, Abu Nuaim menuliskan ungkapan Wahab bin Munabbih tentang tiga tanda orang zalim. Pertama, dia menindas yang di atasnya dengan ketidaktaatan. Kedua, memperdaya yang di bawahnya dengan mendominasi. Ketiga, dia mendukung orang yang menindas sesamanya.

Tentang tanda pertama, maksudnya adalah bahwa kepada orang kaya, berilmu, dan kepada pemimpin dia tidak mau taat. Padahal Nabi berpesan, “TIdak boleh iri kecuali pada dua orang, yaitu orang yang Allah anugerahi padanya harta lalu ia infakkan di jalan kebaikan dan orang yang Allah beri karunia ilmu, lalu da menunaikan dan mengajarkannya” (HR. Bukhari).Begitu juga ayat, “Wahai orang-orang yang beriman taatilah Allah dan taatilah rasul (Muhammad), dan ulil amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu” (QS. al-Nisaa/4: 59).

Tak hanya itu, di dalam al-Qur’an Allah memuliakan orang kaya yang bertakwa, “Siapa yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa serta membenarkan adanya (balasan) yang terbaik (surga), Kami akan melapangkan baginya jalan kemudahan (kebahagiaan)” (QS. al-Lail/92: 5-7). Begitu juga kepada orang berilmu, “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat” (QS. al-Mujadilah/58: 11).

Tentang tanda yang kedua adalah pemimpin yang zalim itu suka memperdaya yang dipimpinnya. Padahal Nabi bersabda, “Siapapun pemimpin yang menipu rakyatnya, maka tempatnya di neraka” (HR. Ahmad). Begitu juga, “Tidaklah seseorang diamanahi memimpin suatu kaum kemudian ia meninggal dalam keadaan curang terhadap rakyatnya, maka diharamkan baginya surga” (HR. Bukhari).

Tanda orang zalim yang terakhir adalah orang yang mendukung penindasan. Dalam hal ini diam atas ketidakadilan sama dengan mendukung penindasan. Penindasan itu sendiri termasuk kemunkaran. Imam Nawawi dalam Arbain Nawawi mengutip hadits Nabi yang berbunyi, “Siapa saja dari kalian melihat kemunkaran, ubahlah dengan tangannya. Jika tidak bisa, ubahlah dengan lisannya. Jika tidak bisa, ingkarilah dengan hatinya, dan itu merupakan selemah-lemahnya iman”.

Inilah tiga tanda orang zalim yang bukan hanya diidentifikasi, tapi juga harus dihindari.*

 

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here