Khutbah Jumat: Spektrum Makna Shalawat

161
KH Syamsul Yakin

Oleh: KH Syamsul Yakin
Dosen MKPI FDIK
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Di dalam al-Qur’an Allah memberi informasi bahwa Allah dan para malaikat bershalawat kepada Nabi, “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi” (QS. al-Ahzab/33: 56).

Pada paruh terakhir ayat ini, Allah malah menyuruh kepada orang-orang beriman untuk juga bershalawat kepada Nabi, “Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya”.

Nah, apakah yang dimaksud Allah dan para malaikat bershalawat kepada Nabi dan apa pula urgensi orang-orang beriman bershalawat dan mengiringkan salam untuk beliau?

Menurut Syaikh Nawawi dalam Tafsir Munir, ketika Allah bershalawat kepada Nabi artinya Allah menyayangi Nabi. Lalu ketika para malaikat bershalawat kepada Nabi itu artinya mereka berdoa untuk Nabi. Begitu juga pada saat orang-orang beriman bershalawat kepada Nabi itu artinya mereka memuliakan Nabi. Harapannya, mereka akan dimuliakan Allah, baik di dunia terlebih di akhirat.

Dalam sejarah perjuangan Nabi, kita menyaksikan betapa Allah menyayangi Nabi dari agitasi politik orang-orang kafir Mekah. Saat mereka melakukan embargo ekonomi, Nabi masih bisa bertahan hidup kendati mereka mengumumkan apa yang Nabi jual jangan dibeli dan apa yang Nabi beli jangan dijual.

Puncak penderitaan Nabi saat berdakwah adalah saat paman beliau, yakni Abu Thalib lalu disusul istri beliau, yakni Khadijah wafat. Untuk menghibur Nabi, Allah kemudian mengisra’kan dan memikrajkan beliau.

Lalu, secara geo-politis, manakala Nabi berdakwah di Mekah tak mendapat tempat dan kian dihimpit oleh kaum kafir Mekah yang hipokrit, Allah memberi solusi yang membesarkan hati Nabi, yakni hijrah atau migrasi besar-besaran ke Madinah, “Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak” (QS. al-Nisaa/4: 100).

Kasih sayang Allah bertambah-tambah setelah Nabi bermukim di Madinah. Bukan hanya keberhasilan dakwah, tapi juga ekspansi wilayah, kemajuan ekonomi, sosial, dan budaya. Ditutup dengan ditaklukkannya Mekah sebagai lambang supremasi kedigdayaan bangsa Arab ketika itu. Soal ini al-Qur’an langsung yang memberi informasi, “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata” (QS. al-Fath/48: 1).

Menurut pengarang Tafsir Jalalain yang dimaksud dengan “kemenangan yang nyata” pada ayat di atas adalah kemenangan yang pasti bagi Nabi dengan menaklukkan Mekah.

Pertanyaan selanjutnya, apakah tidak cukup kasih sayang Allah untuk Nabi sehingga memerlukan doa para malaikat. Tentu kasih sayang Allah berlimpah untuk Nabi dan tak ada kurangnya.

Namun para malaikat juga berhak mengekspresikan cinta mereka dalam bentuk doa terutama untuk kesuksesan Nabi dalam berdakwah baik pada periode Mekah maupun Madinah. Bahkan tak hanya doa, saat Nabi berdakwah di Thaif yang direspons negatif dengan dilempari batu hingga melukai Nabi, misalnya, malaikat bersimpati untuk membantu beliau memusnahkan penduduk Thaif. Namun Nabi malah memilih mendoakan mereka.

Semoga kita yang bershalawat dan melantunkan salam keselamatan buat Nabi beroleh kemuliaan baik pada kehidupan di sini yang serba nisbi maupun pada kehidupan nanti yang kekal abadi.*

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here