
Beji | jurnaldepok.id
Petugas Sensus Ekonomi kerap mendapatkan penolakan ketika melakukan pendataan di lingkungan warga di perumahan elit.
“Kadang kita mendapatkan penolakan karena takut kena pajak, karena ada pertanyaan-pertanyaan tentang aset, tentang pendapatan,” kata petugas Sensus Ekonomi Kelurahan Kukusan, Khaerunisa, Selasa (21/7/2026).
Dia menambahkan, saat melakukan pendataan terkait aset, warga yang sedang didata khawatir akan berdampak terhadap pajak. Bahkan, terkadang warga menolak memberikan jawaban terhadap instrumen soal pendataan aset.

“Tapi BPS secara tegas menerangkan bahwa tidak ada hubungannya dengan pajak,” ujarnya.
Diketahui pada pendataan sensus ekonomi terdapat sejumlah instrumen yang perlu mendapatkan keterangan warga. Adapun instrumen tersebut berisikan usaha atau pekerjaan, pendidikan, kesehatan, dan sejumlah instrumen lainnya.
Mengetahui adanya petugas sensus ekonomi yang mendatangi warga, Nisa kerap mendapatkan perlakukan verbal kurang baik. Bahkan terdapat warga yang menolak kedatangan petugas sensus dengan memberikan umpatan yang kurang mengenakan di hati.
Saat akan melakukan pendataan di lingkungan warga dari kalangan ekonomi menengah ke atas, Nisa mendapatkan perlakukan yang cukup menyayat hatinya. Warga yang didatangi menolak kedatangan Nisa dan memberikan uang, layaknya seorang pengemis.
“Ada yang kita enggak dikasih masuk, ya. Ada yang kita tuh dikasih uang Rp 5 ribu. Terus ada yang benar-benar kita enggak dibukain pintu dan dia benar-benar menolak, jadi benar-benar sama sekali susah untuk kita mendata,” ceritanya.
Meskipun kerap mendapatkan penolakan dan perlakuan kurang baik dari warga, namun dirinya
tetap menjalankan tugas. Pihaknya kini mendapatkan bantuan dari pengurus lingkungan apabila ingin melakukan pendataan warga.
“Kita kan mendata otomatis untuk kegiatan pemerintah, kita berdasarkan SOP-nya, tapi memang kan enggak semuanya paham ya, makanya sekarang di bantu RT dan RW,” ucapnya.
Selain mendapatkan bantuan dari pengurus lingkungan, Nisa mendapatkan bantuan dari kader PKK Kelurahan untuk melakukan pendataan. Hal itu untuk memberikan sosialisasi kepada warga terhadap kegiatan sensus ekonomi dari BPS.
“Sebenarnya sih kalau untuk warga menengah ke bawah, itu agak lebih mudah kita data gitu ya, karena mungkin tahu fungsi, kegunaannya juga dari pendataan sensus ini. Tapi kalau untuk yang menengah ke atas dan usaha besar agak sulit,” tukasnya.
Nisa mengaku akan melakukan pendataan sensus ekonomi hingga Agustus mendatang. Selama sehari, nisa mampu menyelesaikan tugas melakukan pendataan hingga 20 kepala keluarga.
“Waktu awal-awal kita 10 rumah, tapi kalau sekarang sih udah bisa 20 rumah satu hari,” pungkasnya. n Aji Hendro








