HeadlineKeagamaan

Jangan Lupa Nanti Malam Nishfu Sya’ban, Allah Akan Ampuni Dosa Kita Sebanyak Bulu Kambing

Oleh: KH Syamsul Yakin
Pembina Lembaga Dakwah Darul Akhyar (LDDA) Kota Depok

Imam Ibnu Rajab (wafat 795 Hijriyah) dalam kitab Lathaif al-Ma’arif menuliskan hadits Nabi tentang keutamaan malam Nishfu Sya’ban.

Pertama, “Sesungguhnya Allah turun pada malam Nishfu Sya’ban ke langit dunia untuk mengampuni dosa (kendati dosa tersebut) sebanyak hitungan bulu kambing” (HR. Ahmad).

Makna “turun” dalam konteks ini untuk mengatakan bahwa Allah memberi ampunan yang luas bagi para pendosa. Kendati dosa tersebut sejumlah bulu kambing.

Kedua, “Sesungguhnya Allah turun pada malam Nishfu Sya’ban, lalu Allah mengampuni makhluk-Nya, kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan” (HR. Ibnu Majah).

Dari hadits ini dapat dipahami bahwa menyongsong Ramadhan kita harus saling memaafkan. Termasuk memperbaiki tauhid agar tidak terjebak ke lembah musyrik. Tujuannya, agar diampuni segala dosa oleh Allah.

Ketiga, “Sesungguhnya Allah turun kepada makhluk-Nya pada malam Nishfu Sya’ban untuk mengampuni para hamba-Nya, kecuali dua orang, yakni orang yang bermusuhan dan pembunuh” (HR. Ahmad).

Hadits ini memberi isyarat agar semua komponen masyarakat mampu menciptakan suasana yang kondusif, partisipatif, dan solutif terhadap masalah yang mendera. Termasuk dalam merespon mahalnya harga kebutuhan pokok menjelang Ramadhan.

Dalam hadits Imam Baihaki, juga disebutkan bahwa orang yang tidak diampuni dosanya pada malam Nishfu Sya’ban adalah orang yang berzina. Tak heran, kalau menjelang puasa tempat-tempat maksiat ditertibkan oleh petugas.

Yang menarik, seperti ditulis Imam Ibnu Rajab, Imam Syafi’i (wafat 204 Hijriyah) menyebutkan bahwa ada lima malam yang dikabulkan Allah saat seorang hamba berdoa. Pertama, malam Jumat. Kedua, malam Idul Fitri. Ketiga, malam Idul Adha. Keempat, malam pertama bulan Rajab. Kelima, malam Nishfu Sya’ban.

Malam ini adalah malam Nishfu Sya’ban, mari kita rengkuh keutamaannya dengan banyak beribadah kepada Allah secara individual atau berbaur di tengah-tengah masyarakat secara komunal.*

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button