HeadlineKeagamaan

Lagi, SETARA Institute Tempatkan Depok di Peringkat Terakhir Sebagai Kota ‘Intoleran’, Wali Kota Buka-bukaan

Margonda | jurnaldepok.id
SETARA Institute kembali menobatkan Depok sebagai kota dengan Indeks Kota Toleran (IKT) 2023 terendah.

Dari 94 kota di Indonesia, SETARA Institute menempatkan Kota Depok diposisi buncit yakni peringkat 94 dengan skor akhir 4,010 setelah Kota Cilegon dengan skor 4,193.

Sementara kota dengan skor tertinggi menurut SETARA yakni Kota Singkawang dengan skor 6,500 disusul Kota Bekasi dengan skor 6,640 yang berada diposisi kedua.

SETARA menilai, terdapat temuan positif bahwa kota-kota pada peringkat 10 terbawah ini telah
melakukan berbagai upaya untuk membenahi diri, mulai membangun ekosistem toleransi terutama melalui perluasan partisipasi dan peran yang diambil elemen masyarakat.

Hal tersebut terpotret melalui temuan rata-rata skor pada 10 kota terbawah yang mengalami kenaikan dibanding tahun sebelumnya. Pada IKT 2022, zona 10 kota terendah berada pada rata-rata skor 4,17. Skor tersebut naik pada IKT 2023 menjadi 4,33. Dengan kata lain, meskipun masih berada di papan bawah, kota-kota tersebut mulai berbenah.

Menanggapi hal itu, Wali Kota Depok, Mohammad Idris mengatakan, pemkot setiap tahun juga melakukan survey yang bekerjasama dengan perguruan tinggi dan lembaga profesional independen lain non partisan.

“Kami menghargai semua survey yang dilakukan siapapun dan lembaga manapun, karena hal tersebut merupakan bagian dari hak berekspresi WNI untuk mengungkapkan pendapat atau pandangan sesuai etika dan kode etik keilmuan (scientific) survey,” ujar Idris kepada Jurnal Depok usai membuka Musrenbang Kecamatan Sawangan, Kamis (01/02/24).

Bahkan, kata dia, hasil survey pihaknya dianggap sebagai bahan evaluasi dalam merencanakan kegiatan di tahun anggaran berjalan dan atau tahun anggaran ke depan.

“Mari kita saling menghargai dan saling pengertian, karena itu bagian dari sikap toleransi dan komitmen hidup damai tentram di wilayah kerja dan domisili kita,” paparnya.

Lebih lanjut ia mengatakan, apapun hasil dari survei tersebut dirinya menghargai itu. Namun begitu, Idris meminta jangan apriori.

“Perlu diketahui, 93 persen penduduk Depok adalah umat Islam. Selama ini gereja-gereja Katolik, Protestan dan rumah ibadah agama lain sudah merasa nyaman dengan apa yang kami lakukan. Seperti izin rumah ibadah setiap tahun kami tandatangani dan enggak pernah kami hambat, tolong dihargai ini, jangan sampai ada satu survey disentimenkan negative,” pungkasnya. n Rahmat Tarmuji

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button