HeadlineKHUTBAH JUMAT

Khutbah Jumat: Kemuliaan Merbot Masjid

Oleh: Syamsul Yakin
Wakil Ketua Umum MUI Kota Depok

Di dalam Tanqihul Qaul, Syaikh Nawawi mengutip sejumlah hadits tentang kemuliaan orang yang mengurus masjid. Lazimnya, di Indonesia orang itu disebut merbot masjid. Namun secara umum hadits-hadits berikut berlaku juga buat siapa saja. Seperti orang kaya, pejabat, para pesohor, dan orang terpandang lainnya.

Kemuliaan pertama merbot masjid adalah dimintai ampunan oleh malaikat. Nabi bersabda, seperti dikutip Syaikh Nawawi tanpa menyebut muhadits dan perawinya, “Barangsiapa menyalakan lampu di dalam masjid kendati cahayanya hanya sekerlip mata, maka malaikat senantiasa memintakan ampunan untuknya selama cahaya lampu itu masih terpendar di dalam masjid”.

Tentu hadits ini tidak berlaku bagi merbot belaka. Namun berlaku buat siapa saja yang memberi penerangan di dalam masjid. Untuk itu, selain beribadah mahdhah (murni, seperi shalat) di masjid jamaah bisa melaksanakan ibadah tambahan (ghaira mahdhah), yakni menyalakan lampu. Kendati itu adalah pekerjaa merbot secara fungsional.

Merbot tak hanya dimintai ampunan oleh malaikat karena menyalakan lampu, tapi juga menggelar tikar. Menggelar tikar bisa dilakukan oleh siapa saja. Pahalanya, seperti yang Nabi janjikan, “Barangsiapa yang menggelar tikar di masjid, maka malaikat senantiasa memintakan ampunan untuknya selama tikar itu masih tergelar di masjid”.

Untuk itu, kalau pahala adzan tidak kita dapatkan, kita bisa berburu pahala menyalakan lampu. Pun kalau pahala jadi imam shalat tak bisa kita rengkuh karena keterbatasan ilmu, kita bisa berlomba mengejar pahala menggelar tikar. Inilah keluasan dan keluwesan Islam.

Tak hanya menyalakan lampu dan menggelar tikar di masjid yang akan beroleh ampunan, orang yang membuang kotoran dari dalam masjid juga akan mendapatkannya. Nabi bersabda, “Barangsiapa yang membuang kotoran dari dalam masjid kendati hanya secuil, maka Allah akan mengampuni dosa terbesar orang itu”.

Inilah rangkaian pahala menyalakan lampu, menggelar tikar, dan membersihkan masjid yang umumnya dilakukan oleh merbot sesuai tupoksi (tugas pokok dan fungsinya). Namun di luar pahala berupa ampunan, Nabi memotivasi, “Sesungguhnya membuang kotoran dari dalam masjid (hal itu) sebagai mas kawin untuk mempersunting bidadari”.

Kemuliaan merbot masjid yang kedua adalah akan dibangunkan rumah di surga. Nabi bersabda dalam hadits yang muhaditsnya adalah Imam Ibnu Majah dan Ibnu Said sebagai perawinya, “Barangsiapa yang mengatasi bahaya dari dalam masjid, maka Allah akan membangunkan rumah untuknya di surga”.

Mengatasi bahaya yang dimaksud tentu luas maknanya. Namun yang pasti merbot masjid yang tupoksinya menyalakan lampu, menggelar tikar, membersihkan masjid, dan menjaga keamanannya kelak beroleh ampunan, mas kawin buat bidadari, dan rumah di surga.

Kalau saja informasi dalam kitab Tanqihul Qaul ini disebarkan dan bahkan ditempel di dinding-dinding masjid, tak ayal posisi merbot masjid akan jadi rebutan.*

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button