HeadlineKesehatan

Calon Ibu Penderita Anemia Ternyata Bisa Lahirkan Bayi Stunting, Ini Pencegahannya

Beji | jurnaldepok.id
Kekurangan zat besi adalah penyebab anemia terbanyak pada remaja dan bisa melahirkan anak stunting.

Dosen Departemen Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Indonesia (UI), Nurul Dina Rahmawati mengatakan, satu dari empat remaja puteri Indonesia mengalami anemia.

“Jika tidak ditangani dengan tepat, mereka yang mengalami anemia akan menjadi ibu hamil yang juga anemia, sehingga turut menambah prevalensi stunting di masa depan,” ujarnya.

Di antaranya, kata dia, perubahan fisik dan psikososial pada remaja, pertumbuhan tubuh remaja dan konsekuensinya terhadap kebutuhan gizi.

“Kemudian dampak, penyebab dan pencegahan anemia, pentingnya asupan makanan bergizi seimbang dan pola hidup sehat,” katanya.

Selanjutnya, kata dia, pentingnya konsumsi tablet tambah darah (TTD) bagi remaja puteri serta pentingnya status gizi yang baik sebelum menikah dan dampak pernikahan usia dini.

“Anemia adalah salah satu masalah gizi yang ditandai dengan rendahnya kadar hemoglobin (<12>g/dL pada remaja putri dan <13>. Gejala anemia dapat berupa rasa pusing, lemah, lesu, wajah/kelopak mata pucat, hingga kuku berbentuk cekung jika kondisi sudah sangat parah,” paparnya.

Menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018, sebesar 26,8 persen anak Indonesia usia
5–14 tahun dan 32 persen pada usia 15–24 tahun menderita anemia.

“Edukasi tersebut dinilai penting karena dalam jangka pendek, anemia dapat menyebabkan penurunan konsentrasi belajar karena kurangnya kadar oksigen yang dihantarkan ke otot dan otak,” terangnya.

Sementara itu, lanjutnya, dalam jangka panjang, penurunan konsentrasi dan prestasi pada remaja dapat menyebabkan berkurangnya produktivitas, sehingga mereka berpotensi berpenghasilan rendah saat dewasa.

“Selain itu, kondisi ibu hamil yang mengalami anemia juga dapat menghambat perkembangan janin, sehingga bayi akan lahir prematur dengan berat badan rendah dan tubuh pendek atau kecil,” katanya.

Hal tersebut, kata dia, tentu meningkatkan risiko stunting dan gangguan perkembangan kecerdasan pada anak, sekaligus memunculkan risiko kematian pada ibu karena pendarahan,” pungkasnya. n Aji Hendro

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button